Mengenal Flora TNRAW : Pemanfaatan Agel (Corypha utan)

Agel muda di TNRAW

Agel muda di TNRAW

Potensi Agel (Corypha utan) atau lebih dikenal sebagai gebang di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai tergolong masih sangat besar. Tumbuhan ini memiliki persebaran yang cukup luas. Agel dapat tumbuh dengan baik di daerah savana yang kering dan menjadi tumbuhan sela pada ekosistem yang didominasi oleh alang-alang. Kadang-kadang dijumpai pula di daerah berhutan yang letaknya berdekatan dengan savana. Daya tahannya terhadap api cukup baik mengingat daerah-daerah yang ditumbuhi oleh flora ini di TNRAW umumnya termasuk ke dalam wilayah-wilayah yang rawan kebakaran.

Sistem Klasifikasi

Agel (Corypha utan) dalam sistem klasifikasi tumbuhan masuk dalam family Palmae, Kelas Monocotyl, Sub Divisi Angiospermae dan Divisi Spermathophyta (Anthophyta). Suku Tolaki dan suku-suku lain yang berdiam di Sulawesi Tenggara umumnya menyebut tanaman ini dengan istilah Agel. Sedangkan masyarakat Jawa lebih mengenal Gebang sebagai nama tumbuhan yang batangnya mirip dengan pohon kelapa ini.

Morfologi

Agel dapat tumbuh hingga ketinggian mencapai 15-20 meter dan pada puncaknya terdapat daun-daun berbentuk kipas bertangkai panjang yang berimpit-impitan, hanya didapati di dataran rendah dan di daerah-daerah berbukit yang tidak terlalu tinggi. Tulang daunnya memanjang berbentuk seperti lidi. Daun ini hanya tumbuh di bagian ujung pohon saja, karena setelah tua daun ini mengering dan rontok.

Batangnya berbentuk silinder mirip dengan karakteristik batang kelapa. Bagian luar batang berupa lapisan kulit yang keras dan padat sedangkan di bagian dalam diliputi oleh serat-serat vertical. Warna batang agak kecoklatan dan dapat mengeluarkan getah berwarna coklat kemerah-merahan. Seperti morfologi tumbuhan palem-paleman lainnya, Agel memiliki ruas-ruas melingkar pada batang yang merupakan bekas-bekas yang ditinggalkan pelepah akibat rontok seiring pergantian fase pertumbuhannya. Tiadanya percabangan menyebabkan jarangnya satwa yang berminat untuk memanjat tanaman yang memiliki diameter batang yang relative sama antara pangkal dan ujungnya ini.

Umumnya Agel tidak memiliki bunga, namun Agel dapat mengeluarkan bunga pada umur 60-70 tahun. Bunga yang dimiliki berbentuk malai bercabang membabar pada puncaknya dan setelah mengalami fase ini Agel lalu mati. Sedangkan akar yang dimiliki Agel berupa akar serabut dimana struktur akar ini menyebar ke segala arah.

Pemanfaatan

Agel termasuk jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatakan untuk berbagai keperluan baik akar, batang maupun daunnya. Hasil penelusuran literatur, potensi pemanfaatannya adalah sebagain berikut :

1. Akar

Akar tumbuhan Agel berwarna keputih-putihan itu dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk meringankan diare ringan dan berak berair. Orang-orang Bugis mengunyah akarnya untuk mengobati batuk.

2. Kulit Batang

Kulit batang yang keras dan silindris dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat bedug dengan menghilangkan serat-serat yang ada di bagian dalam batangnya. Saat ini pemanfatan kulit batang ini sudah mulai jarang karena masyarakat lebih menyukai kayu silinder untuk menggantikan kulit Agel.

3. Daging batang

Menurut De Clerch daging batang Agel dapat dijadikan makanan bagi babi. Sedangkan di Madura dan Sulawesi Utara digunakan sebagai bahan makanan apabila mereka kekurangan beras. Caranya daging batang dikeringkan lalu direndam dalam air, ditumbuk dan disaring dengan ayakan yang halus. Dari proses ini diperoleh sari Agel berwarna merah kotor yang dapat dikonsumsi manusia sebagaimana layaknya mengkonsumsi sari sagu sebagai bahan makanan pokok.

4. Nira

Nira yang disadap dari tumbuhan Agel dapat dimanfaatkan untuk membuat minuman sejenis dengan tuak meskipun kualitasnya tidak sebagus hasil sadapan dari aren. Proses penyadapan diawali dengan memotong sebagian tangkai daun, lalu ujung potongan itu dibarut dan ditutup dengan dedaunan agar tidak terkena udara. Dari barutan-barutan ini keluarlah nira yang tertampung wadah yang diletakkan menggantung di bawah tangkai terpotong tersebut. Cara lain mendapatkan nira dengan melubangi bagian ujung tanaman yang menyimpan nira. Pada ujung lubang itu diletakkan wadah untuk menampung aliran nira yang jatuh. Penyadapan nira Agel saat ini jarang dilakukan selain karena kualitas nira yang dihasilkan rendah juga disebabkan kesulitan memanjat tumbuhan ini.

5. Getah

Getah Agel yang berwarna coklat kemerah-merahan itu ternyata dapat dimanfaatkan sebagai obat batuk. Caranya dengan melarutkan getah itu ke dalam air lalu diaduk dan diminum. Konon dapat pula digunakan untuk mengobati penyakit TBC, disentri dan dalam keadaan segar digunakan sebagai penutup luka akibat terkena benda tajam.

6. Daun

Bagian ini merupakan bagian yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di daerah penyangga TNRAW. Daun Agel terbagi menjadi 2 bagian, yaitu tulang daun yang berbentuk lidi panjang dan lembaran daun yang dikenal dengan nama pias daun. Mereka menganal Agel karena pias daun ini dapat digunakan untuk membuat kerajinan anyaman berbagai keperluan rumah tangga.

Janur Agel lebih disukai masyarakat diabandingkan daun bagian bawah yang telah tua disebabkan sifat fisiknya lebih kaku, segar dan kuat. Janur dipetik dari bagian atas pohon dengan cara dipanjat terlebih dahulu. Untuk Agel-Agel yang tidak terlalu tinggi, penggunaan tangga sangat membantu untuk alat panjat yang efisien. Setelah itu daunnya dijemur untuk mempermudah pengolahan lebih lanjut.

Setelah agak kering, pias daun dipisahkan dari lidinya dengan cara diraut memakai pisau atau bambu yang telah ditajamkan pada salah satu sisinya. Lidi-lidi itu apabila terkumpul dapat digunakan sebagai bahan pembuat sapu lidi. Sedangkan pias-pias yang berwarna hijau kuning muda itu dianyam menjadi tikar. Bagi sebagian masyarakat lain, pias daun Agel digunakan sebagai bahan baku untuk membuat kerajinan topi, tas dan tali.

Rata-rata pias daun Agel memiliki lebar sekitar 2 cm dengan panjang 1 meter. Ukuran ini dapat disesuaikan dengan memperhatikan jenis produk yang akan dibuat. Untuk membuat tikar kasar atau tikar penyekat tempat tidur, pias daun bisa langsung dianyam. Harganya di pasaran Desa Tatangge Kecamatan Tinanggea agak murah sekitar Rp 5000,00 per lembarnya (harga tahun 2008). Sebagai gambaran tikar ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3m x 2m, sangat cocok untuk alas kasur pembatas ranjang.

Kerajinan-kerajinan yang membutuhkan pengerjaan halus seperti topi, tas dan beraneka souvenir memakai pias daun yang tidak terlalu lebar. Pias daun dengan lebar 2 cm dibelah lagi menjadi 4 atau lebih sesuai dengan kebutuhan. Setelah dibersihkan dan dihaluskan, dilakukan penganyaman dengan mengkombinasikan warna-warna yang berbeda untuk mengesankan motif tertentu sesuai dengan selera konsumen. Produk  kerajinan tersebut memiliki harga pasar yang lebih tinggi dari pada hasil anyaman yang berupa tikar kasar. Sebagai perbandingan tikar Agel dengan bahan baku yang lebih halus apabila dibuat 2 lapis memiliki harga pasar Rp 25.000,00 tiap lembarnya dibeli langsung dari para pengrajin di Desa Tatangge Kecamatan Tinanggea (harga tahun 2008). Apalagi jika produk yang dihasilkan berupa topi atau tas tentu saja memiliki nilai tambah lebih tinggi lagi.

Di Sulawesi Selatan daun Agel dibelah kecil-kecil. Lalu diberi perlakuan lanjutan berupa perendaman ke dalam air tawar selama semalam baru kemudian direbus dalam air mendidih hingga warnanya menjadi putih. Bahan baku ini lebih dikenal dengan sebutan “papas” dimana kekuatannya jauh lebih baik dari pada daun Agel biasa. Papas bisa bertahan berbulan-bulan dan dapat dianyam untuk berbagai keperluan. Konon dahulu masyarakat Mandar menggunakan papas ini untuk membuat baju. Tetapi dengan semakin dikenalnya kapas sebagai bahan baku membuat kain, papas beralih menjadi bahan baku membuat tali jahit atau karung.

Ancaman Kelestarian Agel

Potensi Agel di TNRAW yang cukup besar bukanlah jaminan eksistensi Agel di masa mendatang. Manfaat yang begitu besar tidak diimbangi oleh karakteristik fisik dan pertumbuhannya. Pohon Agel TNRAW umumnya memiliki batang yang tinggi, silindris tak bercabang dan dedaunan hanya tumbuh di bagian ujung pohon saja. Hal ini menimbulkan kesulitan para pengrajin untuk mengambil daunnya. Sebagian pengrajin lalu menebang pohon Agel untuk mendapatkan daunnya dengan cara yang mudah. Padahal untuk dapat tumbuh dan memulihkan diri seperti sedia kala diperlukan waktu puluhan tahun (lebih dari 30 tahun untuk Agel yang dewasa). Cara seperti ini tentu saja sangat dilarang.

Pemanfaatan agel dengan cara mematikan pohonnya atau eksploitasi tanpa ada upaya budidaya dapat menjadi ancaman terhadap kelestarian Agel di masa mendatang. Masyarakat umumnya kurang berminat melakukan budidaya di tanah hak karena diperlukan waktu yang terlalu lama untuk memanen hasilnya. Tentu saja tidak setara dengan nilai jual hasil kerajinan yang dihargai murah. Pengambilan dari alam secara terus-menerus dengan cara yang kurang bijaksana (menebang) dapat mengancam kelestarian Agel di masa mendatang.

 

Bahan Bacaan :

Heyne, 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s