Status Kawasan di Sekitar TN Rawa Aopa Watumohai Menurut Peta Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan Sultra

Peta kawasan hutan Sultra

Peta kawasan hutan Sultra

Status kawasan merupakan suatu identitas wilayah yang bersifat fungsional dan menggambarkan tatanan wilayah berdasarkan fungsi dan peruntukkan kawasan sebagaimana ditetapkan oleh peraturan perundangan yang berlaku. Status kawasan memberikan batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan  di dalam konteks pembangunan wilayah. Penunjukan status kawasan ini terkait dengan upaya untuk mendukung sinergitas fungsi dalam kerangka kepentingan pembangunan wilayah baik pembangunan bersifat lokal maupun nasional. Sampai saat ini, penunjukkan status kawasan hutan masih menjadi domain Menteri Kehutanan. Dimana dalam proses awalnya, penunjukkan kawasan ini khususnya Taman Nasional memperhatikan peran strategis kawasan, potensi serta aspirasi masyarakat setempat (Pemerintah Daerah). Penunjukkan merupakan step pertama dalam proses pengukuhan kawasan hutan. Dalam tahapan penunjukkan, umumnya batas-batas wilayah masih bersifat indikatif atau kalaupun telah dilakukan tata batas masih belum temu gelang. Pada Peta Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Sultra, kawasan TNRAW berada di bagian bawah P. Sulawesi dengan warna ungu (download peta silahkan menggunakan link di bawah artikel ini)

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai memiliki pal batas yang sudah temu gelang dengan luasan 105.194 ha, sesuai UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya diklasifikasikan sebagai Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Fungsi pokok KPA mencakup 3 (P) hal, yaitu :

  1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan,
  2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa,
  3. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya

Berdasarkan analisis peta kawasan hutan Sulawesi Tenggara, batas luar kawasan TN Rawa Aopa Watumohai memiliki panjang total 280,63 km. Batas ini bersinggungan dengan kawasan hutan, kawasan budidaya dan laut (Selat Tiworo). Fungsi kawasan tersebut meliputi kawasan Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), Laut dan Area Peruntukkan Lain (APL). Panjang masing-masing garis singgung ditampilkan pada tabel berikut ini.

Tabel Komposisi Garis Singgung Batas Kawasan TNRAW*

NO STATUS LAHAN PANJANG (km) PERSEN (%)
1. Area Peruntukkan Lain 188,29 67,09
2. Hutan Lindung 7,29 2,60
3. Hutan Produksi 62,30 22,20
4. Hutan Produksi Terbatas 2,83 1,01
5. Laut 19,92 7,10
TOTAL 280,63 100

*hasil analisis peta kawasan hutan sultra

Status kawasan yang bersinggungan dengan pal batas TNRAW tersebut masing-masing adalah sebagai berikut :

1. Hutan Lindung

Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Perbatasan TNRAW dengan hutan lindung terjadi pada ekosistem mangrove di kedua sisi kabupaten, yaitu Kabupaten Bombana (Kecamatan Lantari) dan Kabupaten Konawe Selatan (Kecamatan Tinanggea).

2. Hutan Produksi Tetap

Hutan Produksi Tetap adalah kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng, jenis tanah, dan intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai di bawah 125, di luar kawasan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian alam dan taman buru. Fungsi pokoknya adalah memproduksi hasil hutan.

Perbatasan dengan kawasan hutan produksi terjadi sebagian besar di wilayah kabupaten Bombana. Di daerah ini sempat menarik perhatian publik karena ditemukan deposit emas yang cukup tinggi.  Pemanfaatan kawasan hutan produksi untuk pertambangan dapat dilakukan dengan mekanisme perijinan ke Menteri Kehutanan.

Kawasan dengan fungsi hutan produksi memanjang mulai dari Kecamatan Lantari Jaya, sampai Kecamatan Mata Usu, Watubangga, Polinggona dan sebagian kecil Kecamatan Lambandia Kabupaten Kolaka. Perbatasan dengan kawasan hutan produksi juga ada di Kecamatan Puriala di bagian utara kawasan.

3. Hutan Produksi Terbatas

Hutan Produksi Terbatas adalah kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng, jenis tanah, dan intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai antara 125-174, di luar kawasan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian alam dan taman buru. Fungsi utama memproduksi hasil hutan dalam jenis dan skala terbatas.

Perbatasan dengan hutan produksi terbatas terjadi di bagian barat kawasan taman nasional, berdekatan dengan hutan produksi. Persinggungan dengan status ini tidak terlalu panjang, dan hanya di Kabupaten Kolaka saja.

4. Areal Peruntukan Lain (APL)

Dari tabel terlihat bahwa garis singgung terpanjang kawasan TNRAW adalah terhadap status lahan Area Peruntukkan Lain (APL). Panjang garis singgung mencapai 188,29 km atau 67,09 % dari total panjang batas terluar kawasan.  Perbatasan ini sebagian besar terjadi di Kabupaten Konsel, Kolaka dan Konawe. Sedangkan untuk wilayah administrasi Kabupaten Bombana, persinggungan dengan APL hanya terjadi pada beberapa desa di Kecamatan Lantari Jaya yang berdekatan dengan hutan mangrove.

APL mencakup fungsi kawasan untuk selain fungsi kawasan hutan, meliputi kawasan pemukiman, perkantoran, pertanian, perkebunan, jalan, dan lain sebagainya. Karena status kawasan ini bukan termasuk kawasan hutan, maka pengelolaan APL tidak menjadi domain Kementerian Kehutanan.

Status kawasan hutan dapat saja berubah sesuai dengan tata cara sebagaimana dimaksud menurut ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. Perubahan peruntukan dan fungsi tersebut dapat dilakukan untuk memenuhi tuntutan dinamika pembangunan nasional serta aspirasi masyarakat dengan tetap berlandaskan pada optimalisasi distribusi fungsi, manfaat kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan, serta keberadaan kawasan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional.

Download Peta : Peta Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Sultra dapat didownload di sini.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

One thought on “Status Kawasan di Sekitar TN Rawa Aopa Watumohai Menurut Peta Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan Sultra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s