Mengukur Kinerja Konservasi Hutan dengan SIG dan Pemodelan Spasial, Sebuah Pendekatan Konseptual

Perhitungan kinerja survey anoa dataran rendah (peta ini hanya dimaksudkan sebagai contoh/ilustrasi)

Perhitungan kinerja survey anoa dataran rendah (peta ini hanya dimaksudkan sebagai contoh/ ilustrasi)

Kebijakan terkait SIG

Dibandingkan 10 tahun yang lalu, pemanfaatan SIG bidang konservasi saat ini telah jauh meningkat dan semakin maju. Pengelolaan data menjadi perhatian tersendiri untuk menjawab tentang akan diapakan data-data yang telah terkumpul dari resort (lapangan). Ini menjadi bahan diskusi yang sangat menarik di berbagai lini maupun unit kerja. Bahkan di beberapa unit kerja, pengelola data ini menjadi satu bagian tersendiri.

Pengumpulan data merupakan langkah awal untuk menyediakan bahan baku pembangunan informasi. Tahapan ini merupakan yang terpenting karena dalam proses inilah mulai dibicarakan tentang input. Sebaliknya, semua ini akan menjadi sia-sia ketika pengelola data tidak mampu memanfaatkan ketersedian data ini dengan baik. Peran SIG di sini adalah menyediakan tool analisis dan manipulasi data lapang, sehingga menghasilkan informasi dan masukan bagi user.

SIG dan Pemantauan Kinerja

Pemanfaatan SIG di segala bidang memerlukan konektivitas, mulai kegiatan-kegiatan hulu (pengumpulan data) sampai dengan informasi siap pakai. Kegiatan pengumpulan data melibatkan banyak sumber daya, termasuk di dalamnya SDM, peralatan dan biaya. Kegiatan ini akan lebih berarti jika dikelola secara sistematis, sejak proses perencanaan, metodologi pelaksanaan, sampai perekaman data. Prosedur kerja dalam hal ini diperlukan untuk menstandarkan metodologi pendataan lapang dan memberikan arahan kebutuhan minimal data yang harus dikumpulkan.

Pemanfaatan aplikasi SIG untuk memantau kinerja survey lapang misalnya. Seorang petugas survey lapang hendaknya bekerja berdasarkan Standar Operating Procedure (SOP) tertentu dengan target kinerja yang telah ditetapkan.

Contoh sederhana : seorang petugas survey diperintahkan untuk melakukan pendataan lapang dengan metode transek dimana lebar jalurnya 40 m. Peralatan kerja yang harus dibawa adalah kamera, tallysheet dan GPS. Target kinerja misalnya 4 ha/hari apabila lahan berhutan atau 2 ha/hari jika lahannya berupa savana. Setelah pekerjaan selesai dilaksanakan, manajer ingin mengetahui kinerja pegawai bersangkutan. Untuk keperluan ini maka SIG dapat dimanfaatkan untuk melakukan perhitungan pencapaian target.

Data-data koordinat lokasi survey dipetakan dan ditumpangsusunkan dengan peta penutupan lahan. Panjang jalur survey dapat diketahui dengan membuat peta jalur lintasan survey pada setiap tipe penutupan lahan. Dengan melakukan operasi buffering dengan lebar 20 m, maka akan terbentuk poligon pada masing-masing tipe penutupan lahan. Luasan area survey dapat diketahui dengan melakukan operasi calculate geometry pada poligon-poligon tersebut sehingga dapat dihitung hasil capaian survey dibandingkan dengan target kinerja yang telah ditetapkan.

Sebagai ilustrasi, di atas adalah contoh sederhana pelaksanaan survey yang disajikan dalam bentuk peta. Berdasarkan hasil analisis SIG maka diperoleh capaian kinerja sebesar 300 % dibandingkan target kerja sebagaimana ditunjukkan Tabel berikut :

Tabel pengukuran kinerja survay anoa dataran rendah

Tabel pengukuran kinerja survay anoa dataran rendah

Pemanfaatan lainnya, SIG juga dapat dijadikan salah satu pendekatan  pengukuran kinerja dalam sudut pandang outcome/impact. Pengukuran impact ini termasuk cukup rumit karena suatu dampak jarang dipengaruhi oleh variabel tunggal. Peningkatan kinerja program tervisualisasi melalui pengkajian pola-pola data spasial, misalnya saja data sebaran satwa. Perluasan daerah jelajah satwa dan peningkatan kepadatan satwa merupakan salah satu indikator terjadi peningkatan kinerja petugas. Kinerja berupa pertambahan populasi satwa diindikasikan oleh adanya peningkatan kepadatan spasial perjumpaan satwa. Pola-pola sebaran satwa yang makin meluas juga dapat menjadi indikator peningkatan daya dukung, keamanan habitat serta pertumbuhan jumlah satwa. Tanda-tanda kehadiran satwa diidentifikasi melalui perjumpaan, baik perjumpaan langsung maupun tidak langsung. Semua itu dapat divisualisasikan dengan SIG sehingga mempermudah analisis.

Pemodelan spasial

Dalam hubungan cause-effect, SIG memiliki analisis pemodelan yang dikenal sebagai pemodelan spasial. Pemodelan spasial adalah proses manipulasi dan analisis data spasial atau geografis untuk membangkitkan informasi yang lebih berguna bagi pemecahan permasalahan yang komplek. Teknik ini diperlukan karena acapkali user menginginkan analisis permasalahan secara cepat dan terukur dari berbagai persoalan yang rumit. Persoalan atau data yang komplek memerlukan waktu lama untuk diurai menjadi persoalan-persoalan yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Input data spasial tidak hanya berupa titik tapi juga garis dan poligon (area). Dengan adanya atribut yang menyertai data-data spasial tersebut maka konektivitas atribut akan terbangun.

Konsekuensi teknik ini tentu saja terjadinya proses generalisasi untuk menemukan elemen utama dari berbagai fenomena/permasalahan (dalam ilmu statistika dikenal sebagai PCA), dan kadangkala elemen kecil menjadi kurang terperhatian. Sebagai sebuah alat prediksi, tentu saja teknik ini perlu diuji akurasinya sebelum diterapkan. Beberapa implementasi yang umum, model spasial telah digunakan untuk memprediksi berbagai fenomena alam seperti perkiraan sebaran lava dan tingkat bahaya erupsi gunung merapi, kesesuaian habitat satwa dan preferensi satwa.

Pemodelan spasial memiliki output informasi tentang tingkat signifikansi keterkaitan antar variabel bebas dan tak bebas. Dalam beberapa hal, nilai-nilai statistik ini dimanfaatkan oleh user untuk mengukur dampak aktivitas petugas di lapangan terhadap pengendalian gangguan habitat atau populasi satwa. Tingkat signifikansi secara statistik menjadi alat ukur tersendiri untuk melihat seberapa besar pengaruh penetapan jalur patroli petugas, jarak terhadap pos jaga, lokasi pembinaan habitat dan penempatan sarpras lainnya terhadap tingkat kerusakan habitat dan penurunan populasi satwa. Potensi pemanfaatan pemodelan spasial ini di bidang keanekaragaman hayati tentunya masih sangat luas.

Prediksi kebutuhan distribusi sumber daya pengelola pada site tertentu juga dapat menggunakan pendekatan aplikasi pemodelan spasial. Analisis pemodelan memungkinkan alokasi yang lebih efisien terhadap sumber daya yang dimiliki untuk mencapai target kinerja tertentu. Kondisi ini perlu dicermati mengingat kapasitas sumber daya bersifat terbatas, sedangkan kebutuhan/harapan tidak terbatas. Informasi-informasi yang dihasilkan melalui analisis pemodelan prediktif sangat diperlukan sebagai bahan simulasi untuk menyederhanakan fenomena alam dan potensi yang sangat kompleks dan rumit.

Penutup

Kualitas produk SIG sebagai sebuah alat analisis dan manipulasi data sangat dipengaruhi oleh keterampilan operator dan juga kualitas data. Input data SIG dengan akurasi rendah akan menghasilkan produk dengan akurasi yang rendah pula meskipun telah menggunakan berbagai teknik analisis. Di sini berlaku prinsip GIGO Garbage In Garbage Out. Pemasukan data sampah bagaimanapun prosesnya dalam analisis akan menghasilkan produk sampah juga. Untuk itu pemantauan standar kualitas data input memiliki peran penting di dalam analisis SIG. Pemantauan ini dapat berupa pengujian akurasi maupun cross check dengan data-data lainnya. Proses ini dapat terjaga dengan terbentuknya sistem manajemen data SIG berbentuk siklus dan secara teratur memberikan feed back pada proses-proses yang dilaksanakan di bagian hulu (pengumpulan data). Pada  sistem seperti inilah data-data akan memberikan manfaat yang optimal bagi user.

 

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s