Hubungan Antara Babirusa, Babi dan Rusa

Babirusa, gbr diambil di KB Ragunan oleh Firman

Babirusa, gbr di Kebun Binatang Bandung by Firman

Orang awam terkadang salah paham mengganggap babirusa sebagai hasil perkawinan antara babi dengan rusa. Padahal ketiga spesies ini memiliki karakteristik yang berbeda. Secara fisik, babirusa lebih mirip dengan babi daripada rusa, namun untuk melihat lebih jelas tentang hubungan kekerabatan antara ketiga spesies tersebut, diperlukan uji genetik. Kekerabatan yang lebih dekat dicirikan oleh tingkat kesamaan genetik dan jarak genetik. Informasi kekerabatan ini juga bermanfaat untuk membantu ahli  fikih dalam merumuskan fatwa tentang kehalalan memakan ketiga binatang tersebut.

Dalam fikih Islam (terlepas dari status perlindungan satwa oleh berbagai negara), rusa halal untuk dimakan. Sementara babi sangat jelas disebutkan dalam Al-Qur’an maupun Al Hadist haram dikonsumsi. Namun bagaimana dengan babirusa ? Suzzana (1999) melakukan penelitian terhadap genetik ketiga satwa tersebut untuk melihat hubungan kekerabatannya.

Karakteristik babirusa

Dari ketiga jenis binatang tersebut, babirusa termasuk binatang yang paling langka. Di habitat alaminya sendiri, populasi satwa babirusa sudah sangat mengkhawatirkan. Penyebarannya terbatas di Pulau Sulawesi, Togian, Sula dan Pulau Bum. Babirusa termasuk famili Suidae, subfamili Babyrousiane dan genus Babyroussa (Groves, 1980 dalam Prasetyaningtyas 2001).

Prasetyaningtyas (2001) menyatakan bahwa Pada kondisi ditangkarkan, pubertas pada babirusa terjadi pada umur sekitar lima sampai tujuh bulan dan pada habitat asli mencapai matang seksual pada usia 10 bulan atau lebih lama. Babirusa bisa bertahan hidup sampai usia 24 tahun (Macdonald, komunikasi pribadi; Mohr, 1960 dalam Macdonald, 1996; Anonimous, 1996; Anonimous, 2000a). Sampai saat ini laporan tentang perilaku seksual pada babirusa jantan masih sangat minim (Macdonald, 1996; Anonimous, 2000a) dan data ilmiah tentang organ reproduksi babirusa jantan belum pernah dilaporkan.

Selanjutnya, Babirusa berbeda dengan babi karena ukurannya yang lebih besar, pendeknya rambut-rambut tubuh sehingga tampak tidak berambut dan mempunyai warna kelabu. Selain itu babirusa mempunyai keistimewaan pada jantannya, yaitu mempunyai gigi taring caninusyang menjulang ke atas melalui moncong dan melengkung ke belakang. Gigi taring tersebut tumbuh ke atas, dari alveoli menembus melalui kulit di atas rahang dan melengkung ke belakang melebihi dahi, dengan panjang sampai maksimum 31 cm (Leus, 1994). Gigi taring  pada jantan juga tumbuh sampai moncong depan wajah (Macdonald, 1996). Fungsi dari gigi taring ini belum diketahui, tapi gigi taring ini mudah patah dan rapuh kadang digunakan untuk pertempuran pada jantan. Gigi taring dari betina tidak berkembang keluar sebagai taring meskipun kadang-kadang terlihat seperti titik putih menembus melalui kulit.

Habitat babirusa adalah hutan tropik, di daerah tepi sungai, hutan rawa dan umumnya pada daerah berair. Babirusa dapat berjalan cepat dan pandai berenang sehingga memungkinkan untuk pindah ke lain pulau (Anonimous, 1978 dan Anonimous, 1996). Makanannya berupa daun, akar, buah dan apa saja yang dapat dicungkil dengan moncongnya. Selain itu dia juga memakan binatang kecil dan ditemukan sifat kanibal pada hewan dewasa (Macdonald, 1996). Babirusa bersifat nokturnal karena sering ditemui pada malam hari. Di tempat lain ada yang mengatakan babirusa ini binatang diurnal karena juga ditemukan pada siang hari. Hidupnya dalam kelompok-kelompok kecil, yang terdiri dari satu atau dua betina dewasa dengan anaknya atau grup jantan yang belum pubertas, sedangkan jantan dewasa biasanya soliter. Populasi dari babirusa sudah mendekati kepunahan apalagi di habitat aslinya, karena hewan ini banyak diburu orang. Dagingnya dikonsumsi, kepala yang bertaring dipakai untuk hiasan dan taringnya sendiri digunakan untuk obat (Anonimous, 2000b).

Identifikasi ketiga spesies di TN Rawa Aopa Watumohai

Baik rusa (Cervus timorensis), babirusa (Babyrousa babyrussa) dan babi (Sus scrofa Linn) merupakan penghuni kawasan TN Rawa Aopa Watumohai. Keberadaan babirusa di kawasan ini termasuk sangat rentan. Aktivitas perburuan juga menjadi ancaman keberadaan satwa ini. Pertemuan babirusa terjerat oleh petugas Balai TNRAW terjadi sekitar 8 tahun yang lalu, dimana satwa ini ditemukan mati oleh perangkap yang dipasang masyarakat/pemburu. Spesies ini termasuk salah satu jenis satwa prioritas yang dilindungi secara nasional.

Identifikasi keberadaan satwa babirusa secara langsung sulit terjadi karena sifatnya yang sensitif, sementara untuk perjumpaan tak langsung juga tidak mudah dilakukan karena jejaknya yang mirip dengan babi hutan, sehingga menyulitkan identifikasi. Terlebih lagi kedua satwa memiliki habitat yang sama. Ini yang membedakan identifikasi babirusa dengan anoa. Identifikasi anoa lebih mudah, meskipun jejak anoa mirip dengan sapi namun tempat hidup kedua binatang ini berbeda.

Sementara identifikasi rusa dan babi hutan sangat mudah dilakukan, baik perjumpaan secara langsung maupun tidak langsung. Keberadaan  kedua satwa ini tidak sesulit babirusa, apalagi babi sering berkeliaran di dekat pemukiman penduduk.

Hubungan Kekerabatan Babirusa, Babi dan Rusa

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suzzana (1999) dengan sampel satwa berasal dari Kebun Binatang Ragunan Jakarta dapat dipetakan hubungan seberapa jauh hubungan kekerabatan ketiga jenis satwa tersebut. Sampel darah diambil dari 14 ekor rusa jawa (7 ekor jantan dan 7 ekor betina), 8 ekor babirusa (4 ekor jantan dan 4 ekor betina) dan 5 ekor babi betina.

Suzzana (1999) menemukan bahwa keragaman genetik babirusa paling tinggi dibanding rusa dan babi hutan. Untuk kekerabatannya, babirusa lebih dekat kepada babi daripada rusa. Babirusa dan babi hutan memiliki kesamaan genetik yang tinggi (0,48) sehingga jarak genetik kedua satwa tersebut dekat (0,73). Sementara babirusa dengan rusa memiliki kesamaan genetik lebih rendah (0,16) dengan jarak genetik yang jauh (1,83).

Hasil penelitian ini sejalan dengan kemiripan karakteristik morfologi/ fisik pada ketiga satwa, dimana bentuk tubuh babirusa memang lebih mirip babi daripada rusa. Demikian pula dengan perilakunya, jauh lebih mirip babi daripada rusa. Namun sangat disayangkan, dalam hal kemampuan survive di alam, babirusa sangat jauh di bawah babi hutan.

Postulat sejarah kemunculan Babirusa

Sejarah kemunculan babirusa dikaitkan dengan masa Pleistosen, yaitu masa antara 100.000 sampai dengan 1,5 juta tahun yang lalu. Pada saat itu daratan benua tertutup oleh lapisan es. Air membeku, sehingga suhu permukaan laut daerah tropis lebih dingin daripada suhu permukaan laut tropis saat ini. Pada akhir masa pleistosen atau sekitar 18.000 tahun yang lalu, permukaan air laut tropis turum hingga 120 meter (Supriatna, 2008).

Pada masa Peistosen inilah beberapa ahli memperkirakan ada hubungan antara “land bridge” antara beberapa pulau di Indonesia yang memungkinkan berlangsungnya percampuran antara fauna khas Asia (oriental) dengan fauna khas Australia di Pulau-pulau tersebut. Diduga bahwa pada masa tersebut suatu jenis babi yang khas Asia telah mencapai Sulawesi dengan cara melintasi Kalimantan dan akhirnya berevolusi menjadi babirusa sebagaimana kita kenal sekarang (Supriatna, 2008).

Dengan melihat sejarah tersebut, diduga babirusa memiliki kaitan erat dengan keberadaan babi asia. Terlepas dari halal atau haram babirusa untuk dikonsumsi umat Islam disebabkan kedekatan kekerabatannya dengan babi, satwa ini perlu dilindungi dari kepunahan. Barangkali suatu saat nanti generasi sekarang atau anak cucu kita berhasil menemukan manfaat yang luar biasa pada babirusa. Sebagaimana difirmankan Alloh SWT bahwa Tidak ada dari segala sesuatu yang diciptakanNya di langit dan di bumi itu sia-sia.

PUSTAKA

  1. Jatna Supriatna. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
  2. Suzzana, E. 1999. Karakteristik Genetik rusa (Cervus timorensis de Blaiinville 1882), babirusa (Babyrousa babyrussa) dan babi (Sus scrofa Linn). Media Konservasi Vol VI, Agustus 1999 : 11-13.
  3. Prasetyaningtyas, 2001. Studi Histokimia Lektin pada Distribusi Glikokonjugat di Epitel Tubuli Seminiferi Testis Babirusa. Skripsi : Institut Pertanian Bogor.
  4. Artikel Terkait:
    Baca Juga artikel lainnya:

2 thoughts on “Hubungan Antara Babirusa, Babi dan Rusa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s