Informasi Seputar Persiapan Kunjungan Ke Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Peta Rute I Kendari - Kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai

Peta Rute I Kendari – Kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai seringkali menerima kunjungan dari berbagai latar belakang, tujuan, maupun tempat asal. Pengunjung tidak hanya berasal dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Sangat disarankan, sebelum melakukan kunjungan sebaiknya melakukan eksplorasi tentang lokasi yang akan dikunjungi. Eksplorasi dimaksud dapat berupa mencari informasi di internet, bertanya pada teman yang pernah berkunjung, membaca koran maupun mengumpulkan media informasi seperti leaflet atau buklet. Informasi ini sangat bermanfaat untuk membuat rencana perjalanan, menginventarisir perlengkapan/bekal yang harus dibawa, mengefisienkan waktu dan mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.Tidak tersedianya informasi tentang lokasi dapat menyebabkan perjalanan menjadi tidak efisien.

Berikut ini beberapa informasi yang perlu diketahui oleh calon pengunjung baik terkait teknis kunjungan maupun permasalahan yang seringkali ditemui ketika akan mengunjungi TN Rawa Aopa Watumohai :

1. Kebingungan mengenai nama lokasi

Para pengunjung TNRAW kadangkala keliru mengidentikkan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dengan Rawa Aopa. Akibatnya pengunjung yang akan mendatangi kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai malah kesasar ke Rawa Aopa yang berlokasi di Angata. Padahal keduanya punya terminologi yang berbeda. Ini umumnya terjadi pada para pengunjung yang baru pertama kali ke TNRAW.

Peta Rute II Kendari - Kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai.jpg

Peta Rute II Kendari – Kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai.jpg

Rawa Aopa adalah salah satu ekosistem/obyek wisata di dalam kawasan TN Rawa Aopa Watumohai. Sayangnya kantor Balai TNRAW sebagai pengelola kawasan Rawa Aopa tidak berlokasi di sekitar Rawa Aopa itu sendiri. Jika Rawa Aopa terletak di Angata dan sekitarnya, maka kantor Balai TNRAW terletak di Desa Tatangge, Kecamatan Tinanggea, Kab. Konsel, jaraknya kurang lebih 100 km (3 jam perjalanan) dari Rawa Aopa.

Masyarakat Sulawesi Tenggara pada umumnya lebih mengenal kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai dan jalan poros Tinanggea-Kasipute beserta savana di kiri kanannya dengan istilah “PPA”. PPA (Perlindungan dan Pelestarian Alam) merupakan nama lama bagi Direktorat PHKA Kemenhut saat ini. Namun penggunaan istilah ini ternyata masih lebih mudah dipahami oleh sebagian masyarakat Sultra dari pada nama TNRAW itu sendiri.

Bagi calon pengunjung yang berasal dari luar Sultra, kebingungan ini kadangkala sudah terjadi ketika baru keluar dari bandara Haluoleo dan sampai ke pertigaan Ranumeeto. Di papan informasi tertulis : Rawa Aopa ke kiri dan Kendari ke kanan. Pengunjung yang tidak memiliki informasi yang lengkap bisa tersesat memilih arah kiri, padahal kalau mau ke kantor Balai TNRAW harusnya memilih arah kanan (jalur ke Kendari), setelah sampai pertigaan Lepo-lepo belok kanan lagi menuju ke arah Bombana.

2. Tidak semua orang Kendari/Sultra tahu beda Rawa Aopa dengan TN Rawa Aopa Watumohai

Konsekuensinya jangan sembarangan bertanya pada orang di pinggir jalan atau pedagang kaki lima, apalagi anak-anak pengamen di dekat mobil anda. Informasi yang diberikan bisa sesat dan menyesatkan. Jadi ingat pesan Bang Napi : “Waspada … Waspadalah…!!!!”

3. Tidak tahu informasi Aksesibilitas menuju TN Rawa Aopa Watumohai

Pengunjung yang tidak tahu aksesibilitas ke TNRAW berpotensi terlambat sampai ke tujuan. Berikut informasi aksesibilitasnya :

  • Tujuan ke Kantor Balai TNRAW : Kendari (Terminal Baruga) – Konda – Punggaluku – Tinanggea – Desa Tatangge Palang I (120 km, 2,5 jam perjalanan). Pesan buat bang sopir : “turun di PPA Palang I” (sebutan buat lokasi Kantor Balai TNRAW).
  • Tujuan ke Rawa Aopa jalur 1 : Kendari – Ranumeeto – Motaha – Desa Pewutaa Jembatan Rawa Aopa (80 km, 1 jam perjalanan)
  • Tujuan ke Rawa Aopa jalur 2 : Kendari – Puuwatu – Unaaha – Lambuya – Puriala – Desa Pewutaa Jembatan Rawa Aopa (90 km, 1,5 jam perjalanan)
Rute III Kendari - Kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai

Rute III Kendari – Kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai

Selain jalur transportasi, perlu juga diketahui alat transportasi apa yang cocok untuk menuju ke lokasi. Untuk perjalanan dari Jakarta ke Kendari tersedia angkutan udara maskapai Garuda, Lion Air  dan Sriwijaya Air. Jumlah penerbangan lumayan banyak, ada pagi, siang dan sore. Umumnya pesawat-pesawat tersebut transit dulu di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebelum melanjutkan penerbangan ke Bandara Haluoleo Kendari. Calon pengunjung dari kota-kota selain Jakarta silahkan transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan melanjutkan perjalanan dengan salah satu dari ketiga maskapai penerbangan tersebut. Jadwal penerbangan bisa diakses di website masing-masing maskapai tersebut. Harga tiket umumnya bervariasi berkisar antara Rp 800.000 – Rp 2.500.000,- tergantung pada ada tidaknya kursi promo dan waktu terbang.

Untuk alat transportasi darat dapat memanfaatkan angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Sebagai catatan, Bandara Haluoleo letaknya berada di luar kota sehingga perlu perjalanan darat selama kurang lebih 45 menit untuk mencapai pusat Kota Kendari. Bus DAMRI juga belum tersedia di sini. Sarana transportasi dari Bandara Haluoleo biasa menggunakan Taxi atau rental mobil. Penyedia jasa rental mobil Bandara stand by di pintu keluar penumpang pesawat berjajar dengan loket Taxi. Jenis mobil tinggal pilih, ada Avanza atau Xenia dengan kondisi bagus / ber-AC. Tarif untuk rental mobil ke kota Kendari atau Terminal Baruga Lepo-lepo biasanya flat, bisa diajak berangkat kalau sudah mendapat penumpang 3 orang atau lebih. Untuk penikmat Taxi, tarif tergantung jarak (pakai argo). Jangan kuatir, tarif nya lumayan murah kok.

Jika ingin bermalam di Kota Kendari, tersedia hotel yang tarifnya mulai dari kelas melati sampai bintang. Hotel kelas bintang yang ada di Kendari adalah Swiss Bell Hotel, letaknya berdekatan dengan teluk Kendari. Ada juga hotel-hotel besar hampir setara dengan hotel bintang seperti Hotel Horizon, Hotel Plaza inn, Hotel Kubra dan Hotel Attaya. Tersedia pula hotel kelas melati dengan harga sewa cukup murah. Letaknya tersebar mulai pinggiran sampai pusat kota yang jumlahnya cukup banyak di Kendari. bagi yang berminat bisa bertanya lokasinya atau minta diantar pada sopir Taxi atau rental dari Bandara.

Bagi calon pengunjung yang ingin lebih berhemat dengan memanfaatkan angkutan umum dapat menyewa taksi atau rental menuju ke Terminal Baruga. Waktu tempuh sekitar 30 menit. Selanjutnya menyewa angkutan umum Baruga-Bombana. Tarif sewanya per orang lumayan murah dengan kondisi mobil lumayan bagus, umumnya APV dan Kijang. Terkadang ada pula Avanza dan Xenia. Namun jika ingin lebih nyaman, sebaiknya menyewa mobil rental Xenia atau Avanza sekalian sopirnya.

Beberapa lokasi di TNRAW tidak dapat dijangkau oleh angkutan umum, sehingga perlu menyewa kendaraan. Informasi tentang alat trasportasi serta selayang pandang TN Rawa Aopa Watumohai dapat bertanya pada petugas di Kantor Penghubung Balai TNRAW jl. Bunga Kana Nomor 6 Kendari Telp. (0401) 3128138. Dengan berdiskusi secara langsung dengan petugas di sana, informasi tentunya akan lebih lengkap dan jelas sebelum memulai kunjungan ke lapangan. Informasi ini sangat dibutuhkan khususnya mengenai persewaan kendaraan pribadi/umum (charter) di sekitar kawasan TNRAW.

4. Tidak tahu informasi tempat wisata di dalam kawasan TNRAW

Ketidaktahuan ini akan berakibat pada kebingungan dalam merencanakan perjalanan, dan membuat persiapan alat/ bekal. Berikut ini beberapa site wisata yang layak untuk Anda kunjungi :

  • Muara Lanowulu. Aktivitas wisata : Panorama alam, photo hunting, mendayung, penelitian, menyaksikan aktivitas masyarakat nelayan muara, pengamatan burung air, menyusuri sungai di dalam mangrove dengan katinting, wisata kuliner laut, memancing, mengintip buaya muara.
  • Rawa Aopa. Aktivitas wisata : Panorama alam, memancing, photo hunting, mendayung, menyusuri Rawa Aopa dengan katinting, penelitian, menyaksikan aktivitas masyarakat nelayan rawa, pengamatan burung air.
  • Savana Lanowulu-Langkowala. Aktivitas wisata : Panorama alam, photo hunting,  penelitian, rekreasi, pengamatan burung, berkemah.
  • Hutan Pendidikan Tatangge dan Mandu-mandula. Aktivitas wisata : Pendidikan Lingkungan, photo hunting,  penelitian, pengamatan burung, berkemah, pengenalan jenis flora-fauna.
  • Air Terjun Pinanggoosi. Aktivitas wisata : Pendidikan Lingkungan, photo hunting,  penelitian, pengamatan burung, berkemah, penjelajahan alam, menikmati air terjun.
  • Taparang. Aktivitas wisata : mengamati keunikan padang terbuka alami di dalam mangrove, menanam bakau, menikmati pemandangan burung laut menukik menyambar ikan sepanjang perjalanan laut menuju taparang.
  • Gunung Watumohai. Aktivitas wisata : mendaki gunung, photo hunting,  penelitian, pengamatan burung, berkemah, penjelajahan alam.

5. Kebingungan tentang administrasi/perijinan masuk kawasan

Dengan diberlakukannya pungutan masuk kawasan konservasi untuk mengisi kas negara melalui sektor Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), maka untuk tujuan wisata biasa pengunjung dalam negeri dikenakan tarif tiket masuk Rp 2.500,-/orang (murah ya ?? maklum masih tarif tahun 1998). Pengunjung jenis ini tidak wajib mengurus SIMAKSI. Sementara untuk pengunjung non wisata mencakup kegiatan :

  • penelitian dan pengembangan
  • ilmu pengetahuan
  • pembuatan film komersil
  • pembuatan film non komersil
  • pembuatan film dokumenter
  • ekspedisi
  • jurnalistik

harus mengurus Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) dan membayar PNBP sesuai ketentuan yang berlaku bagi para pengunjung umumnya. Pengurusan SIMAKSI dapat dilakukan di Kantor Balai TNRAW Desa Tatangge Kec. Tinanggea Kab Konsel. Sesuai  Peraturan Dirjen PHKA nomor P.07 tahun 2011, Kepala Balai, Kasubbag Tata Usaha dan Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah Taman Nasional memiliki kewenangan dalam penerbitan SIMAKSI pengunjung Taman Nasional. Khusus pengunjung peneliti berkewarganegaraan asing (WNA), pengurusan SIMAKSI dilakukan pada Sekretariat Direktorat Jenderal PHKA di Gedung Manggala Wanabhakti jl. Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Ketentuan umum yang lebih rinci/lengkap tentang penerbitan SIMAKSI baik untuk WNI maupun WNA dapat dibaca secara langsung pada Peraturan Dirjen PHKA nomor P.07 tahun 2011, yang dapat didownload di sini.

Khusus untuk kegiatan penelitian, sebelum melakukan penelitian wajib melampirkan proposal penelitian dan mensosialisasikan rencana penelitiannya. Tujuannya agar petugas dapat memberikan beberapa saran teknis tentang lokasi dan hal-hal yang perlu dipersiapkan selama kunjungan/pengambilan data ke lapangan. Setelah mengantongi SIMAKSI, pengunjung dapat segera mendatangi lokasi taman nasional didampingi petugas yang ditunjuk. Prosedur perijinannya dapat dilihat pada Peraturan Dirjen PHKA nomor P.07 tahun 2011.

6. Beberapa jenis wisata tidak bisa dipersiapkan mendadak

Beberapa jenis wisata memerlukan persiapan, misalnya saja kunjungan ke mangrove (Muara Lanowulu). Bentuk persiapannya berupa pemesanan alat angkut air/ katinting, lalu petugas pendampingnya. Sehingga perlu mengkonfirmasi sebelum melakukan kunjungan ke petugas Balai TNRAW. Ini juga terkait dengan waktu keberangkatan yang menyesuaikan dengan pasang surut air laut. Informasi tersebut dapat diperoleh dengan menghubungi beberapa Kontak Person (Pokja Konservasi atau Kantor Penghubung Balai TNRAW jl. Bunga Kana Nomor 6 Kendari Telp. (0401) 3128138)

7. Informasi tentang apa saja kegiatan yang dapat dilakukan

Gerbang Hutan Pendidikan Tatangge

Gerbang Hutan Pendidikan Tatangge

Ini terkait dengan minat/tujuan pengunjung. Ada yang berkunjung untuk berkemah, wisata, out bond, penelitian, dan lain sebagainya. Tentunya perlu disesuaikan antara minat/tujuan kunjungan dengan lokasi yang kira-kira mendukung untuk kegiatan tersebut. Misalnya saja untuk perkemahan pelajar dan mahasiswa, maka sebaiknya memilih lokasi Hutan Pendidikan Tatangge.

8. Informasi tentang penginapan/hotel

Di Kantor Balai TNRAW saat ini dilengkapi dengan Home stay sebanyak 3 kamar dengan kapasitas 6 orang (6 ranjang). Selebihnya dapat mencari penginapan/hotel di Tinanggea yang memiliki daya tampung cukup banyak, harganya juga relatif murah (Hotel kelas melati). Tersedia kamar AC maupun non AC, bisa pilih. Tinanggea terletak 12 km dari kantor Balai TNRAW, dan dapat dijangkau dengan mobil/motor dengan perkiraan waktu rata-rata 20 menit.

Bagi pelajar/mahasiswa dengan jumlah besar dan hendak praktek lapang dapat memanfaatkan Aula Wisma Cinta Alam kantor Balai TNRAW atau berkemah di Hutan Pendidikan Tatangge (bagi yang hobi camping) untuk bermalam. Lokasi kantor Balai TNRAW juga cukup dekat dengan warung makan atau toko-toko yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Sehingga untuk kebutuhan makan cukup mudah didapatkan.

9. Sarana komunikasi

Bagi pengunjung yang memiliki sarana komunikasi seluler (HP), saat ini telah tersedia jaringan seluler yang cukup bagus. Lingkungan kantor Balai TNRAW telah memiliki akses signal untuk Telkomsel (bagus), Indosat (sedang) dan XL (sedang). Di kawasan savana kiri kanan jalan poros Tinanggea-Kasipute juga memiliki akses signal yang lumayan kuat.

10. Waktu kunjungan

Terkait waktu kunjungan, pada dasarnya kunjungan dapat dilakukan kapan saja. Namun ada baiknya dalam memilih waktu kunjungan dikondisikan sesuai dengan tujuan kunjungan. Hal ini terkait kondisi cuaca yang cukup berpengaruh terhadap situasi medan di TN Rawa Aopa Watumohai. Sebagai gambaran, musim penghujan di kawasan TNRAW dan sekitarnya pada umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan April. Curah hujan cukup tinggi biasanya terjadi pada bulan Januari-Februari. Sementara untuk cuaca panas/kemarau umumnya terjadi mulai bulan Mei dan mencapai puncaknya bulan Agustus-September.

Apabila ingin menikmati savana yang hijau lebat sebaiknya memilih musim penghujan. Sebaliknya, apabila bermaksud untuk memanfaatkan kendaraan roda dua/empat untuk menjelajahi savana/hutan maka pilihan waktu dapat mengambil musim kemarau. Biasanya pada musim kemarau kondisi tanah cukup kering sehingga dapat dilewati kendaraan bermotor.

Kunjungan ke Mangrove tidak terlalu terpengaruh oleh musim, bisa dilakukan kapan saja.  Berbeda halnya dengan perairan Rawa Aopa dimana pada musim kemarau terjadi penurunan debit air, menyebabkan pendangkalan di beberapa bagian kawasan. Akibatnya sebagian kawasan ini tidak bisa dilintasi oleh katinting. Sayangnya, justru pada bulan-bulan kemarau burung aroweli memiliki posisi lebih terkumpul ketika mencari makan di rawa. Peluang untuk ditemukan pun menjadi lebih besar.

Untuk tujuan menjelajahi rawa yang luas, tentu saja pilihan musim penghujan agaknya lebih bijaksana. Katinting lebih leluasa menjangkau berbagai tempat yang cukup indah di Rawa Aopa. Namun kendalanya lagi, apabila waktu kunjungan pada kondisi hujan lebat tentu pelaksanaan kunjungan tidak akan maksimal. Ini juga patut dipertimbangkan.

11. Peraturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam kawasan

Peraturan ini ditetapkan dalam rangka menghindari aktivitas pengunjung yang dapat berpotensi untuk merusak, mengganggu atau mengurangi kualitas lingkungan. Informasi tentang hal-hal yang dilarang di kawasan TNRAW lebih lanjut dapat bertanya pada petugas Balai TNRAW.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s