Mengenal Teknik Kultur Jaringan dan Peluang Restorasi Populasi Spesies Anggrek

Kalus kultur jaringan

Kalus kultur jaringan

Pendahuluan

Perkembangan peradaban tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas lingkungan. Pertambahan jumlah penduduk yang tinggi berdampak pada konsumsi sumber daya alam yang tinggi pula. Upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah berdampak pada degradasi alam. Ini tidak hanya terjadi pada level genetik, tapi telah merambah pada kerentanan jenis dan hilangnya fungsi ekosistem sebagai habitat bagi berbagai jenis spesies. Upaya perlindungan dan pengamanan yang dilakukan secara insitu terhadap habitat alami ternyata masih belum mampu mengimbangi terjadinya erosi genetik. Sehingga yang diperlukan ke depan adalah pengembangan teknologi budidaya yang mampu mengatasi lambatnya pemulihan populasi spesies yang berlangsung secara alami.

Mengenal kultur jaringan

Perkembangan bioteknologi saat ini telah memberikan lebih banyak pilihan bagi manusia untuk dapat merancang strategi menghadapi isu degradasi sumber daya alam hayati. Untuk jenis hewan, kita telah mengetahui perkembangan teknologi klonning. Di sisi lain, teknologi kultur jaringan menjadi salah satu teknologi budidaya yang sangat menjanjikan untuk mempercepat pembiakkan spesies tumbuhan.

Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Gunawan, 1988).

Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tumbuhan baru dalam jumlah banyak, waktunya relatif singkat serta mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tumbuhan induknya. Diharapkan pula dengan teknik ini dapat diperoleh tumbuhan baru yang memiliki sifat unggul. Usaha pengembangan tumbuhan dengan kultur jaringan merupakan usaha perbanyakan vegetatif tumbuhan yang dapat dikatakan masih baru.

Saat ini sudah banyak sekali penemuan-penemuan tentang ilmu pengetahuan kultur jaringan dalam bidang pertanian, biologi, farmasi, kedokteran dan sebagainya. Di bidang farmasi, teknik kultur jaringan sangat menguntungkan karena dapat menghasilkan metabolit sekunder untuk keperluan obat-obatan dalam jumlah yang besar dan dalam waktu yang singkat (Hendaryono dan Wijayanti, 1994).

Faktor genetik merupakan faktor yang menentukan pada tiap tingkat pertumbuhan tanaman, tetapi ekspresi dari faktor genetik ini tergantung dari kondisi fisik dan kimia kultur. Nutrisi sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, tanpa air dan mineral tanaman tidak dapat hidup. Gula dipergunakan sebagai sumber karbon, karena tanaman atau bagian tanaman tidak mampu berfotosintesis dengan normal.

Faktor fisik mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena mempengaruhi pengambilan air, evaporasi, fotosintesis, respirasi, pembungaan, pembuahan dan lain-lain. Beberapa zat pengatur tumbuh sangat penting untuk menentukan arah perkembangan kultur. Penggunaan zat pengatur tumbuh merupakan hal yang kompleks dan saling interaktif baik antar zat pengatur tumbuh maupun dengan faktor lain seperti genetik, suhu, cahaya, dan lain-lain (George dan Sherrington, 1984).

Pemanfaatan kultur jaringan

Pemanfaatan kultur jaringan untuk tujuan komersial bukan sesuatu hal yang baru. Teknik ini banyak digunakan oleh para pengusaha anggrek untuk melakukan hibridisasi serta perbanyakan bibit. Melalui manipulasi menggunakan kultur jaringan dapat dihasilkan corak warna bunga anggrek yang lebih menarik dari pada induk yang diambil dari alam.

Kultur jaringan juga dimanfaatkan untuk menghasilkan bibit unggul dengan sifat-sifat yang diinginkan. Metoda ini terbukti cukup sukses untuk memperpendek umur panen jati dengan cara meningkatkan kecepatan tumbuh jati. Sementara untuk bidang pertanian, teknik ini telah dimanfaatkan untuk menghasilkan bibit padi unggul tahan hama.

Untuk tujuan konservasi spesies, teknik ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal dengan kultur jaringan dapat dilakukan restorasi spesies terdegradasi di alam lebih cepat. Kultur jaringan menjadi salah satu solusi bagi berbagai jenis tumbuhan yang secara alami sangat sulit untuk berkembangbiak. Salah satu contohnya adalah anggrek.

Di alam, anggrek sangat sulit untuk berkembangbiak karena kendala morfologi. Biji anggrek sulit untuk menghasilkan individu baru. Kendala yang dihadapi biji anggrek adalah ukurannya yang kecil dan tidak memiliki jaringan penyimpanan cadangan  makanan. Bahkan embrionya belum mencapai kematangan sempurna. Akibatnya kurang dapat bertahan terlalu lama di alam.  Di sisi lain, anggrek memerlukan media tumbuh yang benar-benar cocok untuk berkecambah. Pada kenyataannya ini sangat sulit terjadi, apalagi dalam waktu yang singkat. Meskipun jumlah bijinya banyak, namun tidak sebanding dengan jumlah anakan yang hidup.

Ancaman kelestarian anggrek di alam cukup tinggi akibat pengambilan oleh manusia secara illegal. Modusnya untuk dijual atau koleksi pribadi. Apabila ini berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada rusaknya habitat dan populasi spesies ini di alam. Belum lagi ditambah dengan rentannya spesies ini terhadap kebakaran hutan dan juga rusaknya tempat tumbuhnya akibat illegal logging maupun perambahan.

Dalam hal ini kultur jaringan merupakan solusi yang tepat untuk memperbanyak kembali populasi anggrek di alam. Induknya diambil dari tempat tumbuh alaminya untuk mempertahankan kemurnian genetik. Selanjutnya dilakukan perbanyakan baik secara generatif maupun vegetatif di Laboratorium. Dengan cara generatif, satu induk dapat menghasilkan 20-40 anakan bahkan lebih dalam waktu kurang lebih 6 bulan.

Pemeliharaan anakan dilakukan dengan menjaga penyinaran dan kebersihan ruangan. Kemudian dilakukan pemindahan anakan apabila telah cukup umur. Setelah cukup kuat, individu hasil kultur jaringan dilepaskan kembali ke alam. Tentunya upaya pengamanan kawasan tetap diperlukan untuk memastikan proses pemulihan populasi tidak terganggu.

Penggunaan kultur jaringan juga sangat membantu apabila akan dilakukan tukar-menukar anggrek dengan pihak lain. Anggrek disimpan di dalam botol dan dapat dibawa ke tempat tujuan. Teknik ini bahkan cukup bermanfaat untuk preservasi genetik spesies dengan menambahkan zat penghambat pertumbuhan, sehingga tumbuhan yang ada di dalam botol tetap kerdil dan tidak memerlukan media penyimpanan yang terlalu luas. Ini bisa disimpan dalam waktu yang lama, dan apabila nutrisi medianya mulai kekurangan dapat diganti media yang baru.

Kultur jaringan terkesan mahal

Keluhan ini yang biasa disampaikan oleh orang ketika akan mengembangkan sebuah laboratorium kultur jaringan. Padahal itu adalah sebuah investasi yang terasa mahal pada waktu pengadaan awalnya saja. Sebab untuk membuat media kultur jaringan beserta zat pengatur tumbuhnya, hanya diperlukan sangat sedikit bahan. Sehingga pembelian bahan-bahan itu dapat digunakan dalam waktu yang sangat lama (awet). Apabila dikalkulasikan tentunya ini tetap menguntungkan, buktinya banyak pengusaha anggrek masih mempertahankan penggunaan teknik ini. Mau mencoba ???

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s