Kebakaran Savana Sebagai Anugerah dan Bencana

Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya. Kita mesti sabar menjalani. Hanya cambuk kecil, agar kita sadar. Adalah Dia di atas segalanya ….”, Kutipan lagu Ebiet G. Ade.

Lagu yang kurang lebih ingin memberi pesan jika anugerah dan bencana ini sesuatu yang amat dekat jaraknya. Supaya manusia tetap bersabar. Ini juga terjadi pada kebakaran savana, bisa dianggap menguntungkan maupun merugikan. Tergantung dari sisi mana kita memandang.

Memahami kebakaran hutan dan lahan sebagai anugerah

Dibalik anugerah ada bencana dan dibalik bencana ada anugerah. Alloh telah menciptakan semua proses-proses di alam dalam kondisi seimbang. Semuanya ada manfaatnya. Dan Dia menciptakan api yang membakar di musim kemarau, baik melalui petir ataupun suhu yang tinggi agar hutan terbakar dan menjadi sehat.

Jaman dahulu ketika manusia jumlahnya masih sedikit, kebakaran justru diperlukan sebagai penyedia pupuk secara alami. Kebakaran savana dapat menyehatkan ekosistem dengan cara meningkatkan pH tanah melalui abu sisa kebakaran serta meningkatkan nutrisi tanah dengan meningkatkan kandungan Kalium dan Magnesium serta fosfor di dalam tanah.

Prosesnya sebagai berikut : dengan adanya kebakaran maka ada supply OH- dari abu sisa pembakaran serta terjadinya proses pertukaran ion pada koloid tanah yang menyebabkan gugus hidrogen (H+) terputus dan tergantikan oleh unsur lain seperti Mg2+, dan K+ sehingga  ketersediaan unsur magnesium dan kalium setelah kebakaran mengalami kenaikan. Begitu pula dengan fosfor dalam bentuk H2PO4 setelah mengalami kebakaran terjadi peningkatan, karena koloid tanah yang mengandung unsur Al2+, Fe3+, Mn2+ bereaksi dengan fosfat dalam pertukaran gugus Hidroksil (OH-) dan merubah muatan H2PO4- menjadi H2PO4. Faktor-faktor tersebut sangat diperlukan oleh tumbuhan untuk hidup lebih baik.

Sementara dari sisi dampak, kebakaran belum dianggap sebagai bencana. Jumlah penduduk masih sedikit sehingga dampaknya kurang terasa. Di sisi lain, kerusakan habitat yang ditimbulkan sewaktu kebakaran tidak menimbulkan kepunahan, karena masih tingginya populasi. Justru dengan adanya kebakaran, khususnya pasca kebakaran, tumbuhan lebih banyak menghasilkan makanan bagi berbagai jenis binatang.

Hewan-hewan segera memulihkan populasinya setelah tumbuhan kembali menghijau. Rerumputan muda yang masih hijau tersebut sangat disukai oleh satwa. Bayangkan jika tidak terjadi kebakaran, maka yang tersedia adalah rumput-rumput tua yang tidak disukai. Akibatnya daya dukung pakan menjadi rendah. Satwa yang ada di savana akan mengalami puncak kurva sigmoid yang pada akhirnya akan mati karena kekurangan pakan.

Secara alami, tumbuhan  mengering dan mati perlahan-lahan. Reregenerasi agak lambat. Dampaknya lebih buruk terhadap kesehatan ekosistem dari pada mati karena terbakar. Hal ini disebabkan pada pasca kebakaran proses dekomposisi, perbaikan nutrisi, peningkatan pH berlangsung cepat. Tumbuhan akan kembali beregenerasi untuk menyediakan pakan berupa rumput muda yang bagus bagi kesehatan satwa.

Fenomena ini sangat terlihat pada musim-musim hujan atau menjelang musim kemarau, ketika tanah masih menerima sedikit air hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan. Sehingga jaman dahulu perladangan berpindah dengan cara membakar juga dianggap sebagai bagian dari kearifan tradisional. Aktivitas ini di masa itu berdampak positip bagi ekologi dan lingkungan.

Pembakaran savana terkendali

Sisi penting antara anugerah dan bencana itu ada pada poin pengendalian. Api yang terkendali cenderung anugerah, sedangkan api yang tidak terkendali cenderung bencana.Kebakaran sebagai anugerah adalah kebakaran yang dalam proses kejadiannya terkendali. Dengan adanya manfaat yang ditimbulkan oleh kebakaran maka secara teknis apabila dilakukan pengendalian terhadap dampak negatif maka secara ekologis ini sangat menguntungkan. Sehingga kebakaran hutan terkendali ini telah menjadi salah satu bagian dari pembinaan habitat dan populasi satwa yang sangat penting.

Pembinaan habitat dilakukan dengan melokalisir areal terbakar di lokasi yang aman dari jenis-jenis spesies rentan, namun menjadi tempat merumput bagi satwa-satwa dilindungi. Pembakaran disengaja ini harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan tidak terjadi lompatan api ke daerah-daerah yang tidak diinginkan. Tentunya untuk skala luas ini tidak mudah. Karena cukup sensitif, kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh petugas atau pihak yang mengantongi ijin dari pihak berwenang.

Kebakaran sebagai bencana

Terminologi bencana itu diciptakan untuk fenomena-fenomena alam/buatan yang berdampak merugikan bagi kehidupan manusia. Dengan pengertian ini, manusia ditempatkan sebagai makhluk yang memiliki egosentris / athroposentris sehingga fenomena yang terjadi secara alami yang sebetulnya diperlukan untuk keseimbangan bumi, apabila merugikan kepentingan manusia dianggap sebagai bencana. Contohnya gempa bumi dan gunung meletus, fenomena alam yang diperlukan bumi untuk mempertahankan stabilitas perut bumi, namun karena merusak bangunan dan kerugian materiil lainnya bagi manusia maka disebut bencana.

Untuk fenomena kebakaran savana,  hasil penelitian menunjukkan sesaat setelah mengalami pembakaran, kerapatan limbak (Bulk Density) mengalami kenaikan yang diakibatkan oleh  pengembangan koloid-koloid tanah sehingga tanah menjadi padat. Persentase ruang pori mengalami penurunan karena adanya partikel-partikel abu sisa pembakaran yang masuk dan mengisi ruang pori, serta adanya pengembangan koloid yang mempersempit ruang pori tanah.

Air yang tertahan pada pori tanah mengalami penguapan akibat pembakaran sehingga menurunkan persentase jumlah air tersedia. Selain menurunkan jumlah pori tanah dan air tersedia, pembakaran juga merusak struktur dan stabilitas agregat tanah sehingga permeabilitas tanah menurun.  Selain itu, kebakaran savana juga berdampak pada menguapnya unsur Nitrogen yang juga diperlukan oleh tumbuhan (Erawan, 2006).

Dalam terminologi ini, kebakaran savana dianggap bencana ketika jumlah penduduk sudah semakin banyak, sedangkan dari sisi ekologi, alam sudah semakin tertekan dengan adanya degradasi sumber daya alam yang secara global/ kumulatif belum dapat dicegah. Upaya-upaya manusia yang selama ini dilakukan pada kenyataannya hanya berhasil mengurangi laju degradasi lingkungan, belum cukup untuk mengimbangi degradasi apalagi membuatnya surplus secara ekologi.

Kondisi ekosistem flora/fauna saat ini di berbagai tempat umumnya mengalami kesamaan karakteristik, umumnya berada pada ancaman degradasi plasma nutfah/ kepunahan spesies yang bisa jadi tidak akan pernah terpulihkan lagi. Sehingga dengan kerentanan tersebut, kebakaran yang seharusnya merupakan anugerah menjadi bencana. Permasalahannya adalah dengan adanya kebakaran yang singkat tersebut, spesies terancam punah dengan populasi serta kerentanan yang dimilikinya, belum tentu mampu bertahan dari krisis akibat kebakaran. Dampaknya dapat berupa terbakarnya tempat hidup, sarang, hilangnya pakan, penguapan air atau secara fisik satwa-satwa/tumbuhan tersebut mati terbakar.

Sebuah renungan

Tren kebakaran hutan dan lahan di habitat spesies terancam punah umumnya terjadi karena kelalaian manusia. Aktivitas itu dapat berupa membuang puntung rokok, membuat perapian, pembakaran lahan, modus perburuan dan lain sebagainya. Dampaknya sangat merugikan. Sebagai contoh kebakaran lahan savana sedikit banyak telah menimbulkan ancaman bagi keberadaan burung maleo di TN Rawa Aopa Watumohai.

Fenomena migrasi lokal dan pergeseran habitat setidaknya menjadi indikasi bahwa tekanan manusia terhadap satwa endemik Sulawesi ini terlalu tinggi. Diperlukan upaya bersama-sama dalam mencegah kebakaran beserta dampaknya dan mengkampanyekan konservasi satwa langka terancam punah ini di bumi anoa.

Kepedulian terhadap dampak kebakaran merupakan bagian dari Sense of ecological crisis. Ini perlu menjadi tren masyarakat disamping sense of economical growth maupun sense of social justice. Isu-isu lingkungan, ekonomi dan sosial yang  berjalan secara seimbang akan menciptakan pembangunan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s