Tren Hotspot dan Kebakaran Hutan di TN Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) Provinsi Sultra Tahun 2001-2011

Kebakaran savana TNRAW

Gbr 1. Kebakaran savana TNRAW

Berbicara tentang kebakaran hutan mengingatkan kita pada kebakaran hebat tahun 1997/1998. Dimana di kala itu, kebakaran telah menyebabkan sebagian sektor ekonomi di Kalimantan lumpuh. Bahkan asapnya sempat kita ekspor ke negara tetangga kita Malaysia. Di Sulawesi Tenggara sendiri, kebakaran hutan dan lahan bukan menjadi isu strategis daerah, sebab frekuensi kebakaran hutan untuk level propinsi masih tergolong rendah. Namun untuk level lokal, kebakaran hutan ini menjadi masalah yang mengkhawatirkan. Dari pantauan satelit, kebakaran hutan dan lahan di bumi anoa dengan frekuensi yang cukup tinggi hanya terlokalisir di beberapa titik saja, seperti di beberapa lokasi di Konawe Utara, satu lokasi di Kab. Kolaka, Mataosu dan kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Konsep Kebakaran Hutan dan Lahan

Syaufina (2008) mendefinisikan kebakaran hutan sebagai kejadian dimana api melahap bahan bakar bervegetasi, yang terjadi di dalam kawasan hutan yang menjalar secara bebas dan tidak terkendali, sedangkan kebakaran lahan terjadi di kawasan non hutan. Kebakaran di Indonesia seringkali membakar areal hutan dan areal non hutan dalam waktu bersamaam akibat penjalaran api dari kawasan non hutan atau sebaliknya.

Segitiga api

Gbr 2. Segitiga api

Brown dan Davis (1973) melukiskan suatu konsep kebakaran hutan sebagai segitiga api yang dikenal sebagai The Fire Triangle. Sisi-sisi segitiga api tersebut adalah bahan bakar, oksigen dan sumber panas atau api. Jika salah satu atau lebih dari ketiga komponen pada sisi-sisi segitiga api tersebut tidak ada maka kebakaran tidak akan pernah terjadi. Ketiga komponen yang mempengaruhi kebakaran hutan sangat tidak mungkin untuk mengatur jumlah oksigen karena oksigen selalu tersedia di alam namun bahan bakar dan sumber api dapat dikontrol, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan.

Kebakaran hutan Indonesia berdampak negatif terhadap sosial ekonomi dimana diperkirakan kerugian akibat kebakaran 1997/1998 mencapai 1,45 miliar dollar AS atau sama dengan 2,5 % GNP Indonesia sebelum krisis (WWF dan EEPSEA dalam Sumardi dan S.M. Widyastuti, 2002).

Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kerusakan terhadap vegetasi, tanah hutan, margasatwa, ekosistem, tempat rekreasi, keindahan alam dan nilai alamiah (Sumardi dan S.M. Widyastuti, 2002).

Karakteristik Satelit TERRA MODIS

Thoha (2006) mengemukakan bahwa hotspot dapat digunakan sebagai indikator terjadinya kebakaran lahan. Titik panas (hotspot) adalah terminology dari satu piksel yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan dengan daerah/lokasi sekitar yang tertangkap oleh sensor satelit data digital. Indikasi kebakaran hutan dan lahan dapat diketahui melalui titik panas yang terdeteksi di suatu lokasi tertentu pada saat tertentu dengan memanfaatkan satelit NOAA (National Oceanic Atmospheric Administration).

Selain NOAA, hotspot juga dapat dideteksi dengan memanfaatkan Citra Satelit Terra dan Aqua. Satelit Terra merupakan satelit observasi bumi buatan National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang membawa sensor MODIS. Satelit Terra pertama kali di luncurkan pada tanggal 18 Desember 1999 dan mulai beroperasi pada bulan Februari 2000. Sensor ini bekerja pada kisaran cahaya tampak (visible) dan inframerah (infrared) yang terdiri dari 36 kanal/band spektral dengan kanal 1-19 berada pada kisaran cahaya tampak dan kanal 20-36 berada pada kisaran inframerah (NASA, 2009), sehingga sangat baik digunakan untuk pengamatan di daerah terrestrial dan fenomena oseanografi. Satelit Terra MODIS mengelilingi bumi pada ketinggian 705 km dengan arah lintasan orbit dari kutub utara menuju kutub selatan (descending node). Satelit ini melintasi equator pada pagi hari mendekati pukul 10.30 waktu lokal. Satelit ini membutuhkan waktu 100 menit untuk sekali mengorbit bumi (resolusi temporal 100 menit).

Citra terra aqua, lapan doc

Gbr 3. Citra terra aqua, lapan doc

Kebakaran di TN Rawa Aopa Watumohai

Kebakaran hutan tidak hanya melanda kawasan hutan produksi tapi telah menjadi masalah pelik di kawasan hutan konservasi maupun hutan lindung. Dampak terjadinya kebakaran telah mulai mengganggu fungsi kawasan sebagai tempat hidup beranekaragam jenis flora/fauna langka yang bernilai tinggi. Beberapa spesies langka terganggu akibat terbakarnya sarang tempat bertelur, bahkan ada spesies mati akibat terbakar secara langsung misalnya kantung semar. Salah satu kawasan konservasi yang mengalami gangguan kebakaran hutan dan telah berlangsung setiap tahun adalah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW).

TNRAW merupakan kawasan yang memiliki nilai penting karena berstatus sebagai Kawasan Pelestarian Alam (KPA), Kawasan Strategis Nasional dan berstatus sebagai Situs Ramsar. TNRAW juga dikenal sebagai lokasi megabiodiversity dan tempat hunian flora dan fauna yang sangat beragam. Corak ekosistem yang khas menjadi salah satu potensi yang ditonjolkan dalam pengelolaan TNRAW.

Berdasarkan pendekatan data hotspot dari citra satelit Terra dan Aqua, secara kumulatif terlihat bahwa pada umumnya kejadian kebakaran hutan dan lahan di TNRAW terjadi pada musim kering (bulan Juli sampai dengan Desember) tiap tahunnya. Lokasi paling rawan adalah ekosistem savana yang membentang pada dua kabupaten, Kabupaten Bombana dan Konawe Selatan. Tren kejadian kebakaran berdasarkan pantauan hotspot dari Citra Terra dan Aqua (NASA) di TN Rawa Aopa Watumohai ditunjukkan grafik berikut ini :

Frekuensi hotspot TNRAW tahun 2001-2011

Gbr 4. Tren hotspot bulanan TNRAW tahun 2001-2011

Tren kebakaran berdasar frekuensi hotspot tahunan kumulatif  Terra dan Aqua (NASA) di TNRAW mengalami puncaknya pada tahun 2002-2006. Tren ini sempat menurun pada tahun 2005 (mencapai di bawah 60 buah/tahun), namun kembali naik pada tahun 2006 hingga menyentuh angka 140 buah/tahun.

Frekuensi hotspot tahunan TNRAW 2001-2011

Gbr 5. Tren hotspot tahunan TNRAW 2001-2011

Berdasarkan lokasi kejadian kebakarannya, daerah rawan kebakaran berdasarkan kerapatan hotspot  kumulatif  Terra dan Aqua (NASA) tergambar dalam peta berikut :

Peta kerawanan kebakaran berdasarkan rata-rata kepadatan hotspot

Gbr 6. Peta kerawanan kebakaran berdasarkan rata-rata kepadatan hotspot

Dengan status kawasan tersebut maka diperlukan serangkaian upaya untuk mereduksi bentuk-bentuk gangguan, baik berbentuk pencegahan maupun penanggulangan. Dalam hal pencegahan, pengetahuan tentang daerah-daerah yang rawan terhadap kejadian kebakaran hutan sangat diperlukan. Selain juga perlu diketahui faktor-faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Penyebab dan Upaya Mereduksi Kebakaran Hutan dan Lahan

Informasi tentang daerah yang memiliki banyak bahan bakar, konflik sosial tinggi, kondisi dan jenis vegetasi, kegiatan pembangunan spontan, merupakan daerah yang rawan kebakaran berdasarkan kondisi lokal, bila diintegrasikan ke dalam perencanaan, akan membantu perencanaan pemanfaatan ruang serta sumber daya alam dengan baik. Integrasi informasi ini dalam perencanaan daerah, terutama untuk jangka panjang akan dapat menurunkan bencana kebakaran hutan dan lahan secara drastis (Kementerian Lingkungan Hidup, 1998 hal 100).

Menurut Suratmo (2003) penyebab utama kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah di Indonesia dipengaruhi oleh faktor manusia baik dikarenakan kelalaian maupun kesengajaan (pembukaan lahan/ slash and burning) dan kecil kemungkinnannya disebabkan oleh faktor alamiah seperti fenomena alam, petir, gesekan kayu dan lain-lain.

Sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup (1998) mengidentifikasi ada tiga penyebab kebakaran : kebakaran yang tidak terkendali dari pembukaan lahan dengan cara membakar, kebakaran yang tidak disengaja dan kebakaran yang disengaja (arson). Secara struktural, kebakaran disebabkan oleh faktor sosial, ekonomi, teknologi dan ekologi.

Meskipun kawasan TN Rawa Aopa Watumohai merupakan salah satu bentuk kawasan lindung, namun status kawasan tersebut tidak serta merta terlepas dari aktivitas manusia (baik legal maupun illegal) yang secara langsung maupun tidak langsung dapat berdampak terhadap peningkatan kejadian kebakaran hutan dan lahan. Beberapa aktivitas masyarakat di dalam TNRAW berupa aktivitas wisata, penelitian, berburu, bertani, pengembalaan liar, mengambil hasil hutan kayu dan non kayu (madu, rotan, daun-daunan, umbi, bambu, sadapan), mencari ikan, udang dan kepiting.

Program pemberdayaan masyarakat telah dilakukan oleh pengelola dalam rangka mendorong peningkatan ekonomi masyarakat penyangga Taman Nasional, seperti bantuan modal, pelatihan, pendampingan maupun kerjasama pemanfaatan hasil hutan non kayu dalam kawasan. Namun upaya-upaya tersebut masih perlu dukungan para pemangku kepentingan, khususnya Pemerintah Daerah yang memiliki domein dalam peningkatan ekonomi daerah, sehingga dengan adanya peningkatan ekonomi produktif diharapkan ketergantungan maupun gangguan terhadap kawasan yang disebabkan oleh manusia berkurang.

Upaya bersifak preventif lainnya dilakukan dengan menyelenggarakan penyuluhan, pembuatan papan informasi dan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional. Sedangkan untuk operasi pemadaman, Balai TNRAW telah membentuk 1 regu Brigade Dalkarhut yang berkantor di Desa Tatangge, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konsel. Regu ini dilengkapi dengan 1 unit mobil pemadam kebakaran dan personil yang direkrut dari masyarakat sekitar.  Bentuk partisipasi masyarakat juga diperlukan dalam rangka penanggulangan kebakaran hutan dan lahan seperti aktivitas ikut memadamkan api maupun menginformasikan kejadian kebakaran di dalam kawasan TNRAW kepada petugas.

*Catatan : Hotspot merupakan indikator kebakaran hutan, namun jumlah hotspot tidak selalu sama dengan jumlah kejadian kebakaran hutan, demikian juga sebaliknya.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s