Keanekaragaman Jenis Elang pada Tipe Habitat yang Berbeda

Abstrak.
Informasi tentang burung pemangsa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai masih sangat sedikit, bahkan belum ada penelitian khusus mengenai keberadaan burung pemnagsa tersebut. Survei ini, menjadi data dasar dan terbaru tentang keanekaragaman jenis elang pada tipe habitat yang berbeda. Pengambilan data dilakukan selama kurang lebih tiga bulan (Maret – Juni 2005). Survei dilakukan pada 22 lokasi pengamatan dan hanya 14 lokasi ditemukan elang. Metode yang digunakan adalah line transek, jarak yang tempuh berkisar antara 2-15 km dengan jarak pandang 50 m dan penggunaan look down method untuk mendeteksi keberadaan elang. Hasil survei menunjukkan terdapat 14 jenis elang dari empat tipe habitat dengan Indeks keanekaragaman jenis: hutan dataran rendah H = 2,155 (11 jenis &39 individu), savanna H = 1,272 (6 jenis &24 individu), perkebunan/pemukiman H = 1,768 (7 jenis & 11 indvidu) dan rawa H = 0,694 (2 jenis & 2 individu). 

elang sulawesi dudi

elang sulawesi dudi

Pendahuluan
Burung elang adalah jenis burung pemangsa puncak yang tidak dimangsa lagi oleh hewan yang lain. Burung ini memiliki peranan untuk mengatur jumlah hewan lain yang menjadi mangsanya di alam sehingga berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan alam. Apabila populasi burung pemangsa di alam terus menurun, maka keseimbangan alam akan ikut terganggu.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara maksimal (mencari makan, istirahat, dan berkembangbiak), burung pemangsa memiliki tipe habitat tertentu yang digunakan untuk melakukan aktivitas hariannya tersebut. Menurut Sözer, dkk. (1999:11), hutan sendiri menunjang peranan yang sangat penting bagi burung pemangsa terutama sebagai tempat bersarang, berlindung dan berburu misalnya saja pada elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Sehingga, keberadaan habitat asli (hutan) dari burung pemangsa tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupannya.
Burung pemangsa telah dilindungi karena merupakan jenis yang penting dalam rantai makanan di alam dan jumlahnya terbatas (Prawiradilaga, dkk. 2003:5). Meskipun telah dilindungi, hampir semua jenis burung pemangsa terancam mengalami kepunahan karena habitat yang telah berkurang dan rusak. Kepunahan pun akan semakin cepat bila upaya-upaya penyelamatannya tidak dilakukan dari sekarang. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis elang pada tipe habitat yang berbeda di TNRAW, sehingga dapat bermanfaat bagi upaya konservasi di daerah tersebut.

Studi Area
Sulawesi memiliki enam dari 22 spesies raptor yang endemik (Meyburg & Van Balen, 1994). Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang terletak di Sulawesi Tenggara, ditetapkan berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan, SK No. 756/Kpts-II/1990 dengan luas daerah 105,194 Ha (Dephut RI, Unesco & Cifor, 2003:118). Kawasan ini menurut Coates, dkk., (2000:35) merupakan sebuah paduan yang menarik antara hutan rawa, perbukitan dan pesisir. Tetapi sayangnya, belum banyak penelitian di kawasan ini. TNRAW terletak pada empat Kabupaten, yaitu: Kabupaten Kendari (sekarang Kab. Konawe), Kab. Konawe Selatan, Kab. Kolaka dan Kab. Bombana (Tepu, 2004:55) dan secara geografis terletak di posisi 121o56’ – 122o9’ BT dan 4o4’ – 4o39’ LS (Wardill, dkk 1998).
Pada umumnya kawasan TNRAW bertopografi datar, bergelombang ringan membentuk bukit sampai bergelombang berat membentuk gunung. Bentang alam berupa pantai, dataran rendah, berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Tempat tertinggi adalah gunung Mendoke (981 m dpl) di bagian Barat, gunung Makaleleo (798 m dpl) di bagian Utara dan gunung Watumohai (550 m dpl) di bagian tengah Selatan.
Tipe iklim menurut Scmidt dan Fergusson termasuk tipe C dan D, dengan temperatur rata-rata 22,3o – 30oC dan kelembaban berkisar antara 21% – 25%. Sedangkan curah hujan bervariasi antara 1500 – 2000 mm/tahun. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sampai dengan Juni. Daerah Taman Nasional memiliki 4 tipe ekosistem yang khas dan unik, yaitu: mangrove, savanna, hutan dataran rendah dan rawa (Tepu, 2004:55). Hal itu meyebabkan tingginya keanekaragaan jenis satwa liar khususnya burung didaerah ini.

lokasi elang sulawesi (dudi doc)

Cara Kerja
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode line transek yaitu berjalan pada jalur yang sudah ada kemudian mencatat jenis dan jumlah individu yang dijumpai, jalur transek berkisar antara 2 – 15 km dengan jarak pandang 50 m. Selain itu digunakan pula tehnik ‘pengamatan ke bawah’ (look-down method), yaitu pengamatan dari atas bukit yang bisa memonitoring bagian atas tajuk pohon atau dari tempat yang menguntungkan di pinggir laut atau celah hutan yang terbuka adalah cara-cara yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan burung pemangsa (Thiollay, 1996 dan Bibby, dkk., 2000:89).
Data yang dicatat pada saat pengamatan yaitu: nama jenis, waktu perjumpaan, jumlah individu dan tipe habitat pada waktu perjumpaan. Tipe habitat dibedakan menjadi empat yaitu: hutan dataran rendah, savanna, perkebunan/pemukiman dan rawa.

Pengolahan Data
Indeks Keanekaragaman Jenis
Indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener dipergunakan untuk melihat tingkat kekeyaan jenis dalam suatu komunitas (Bibby, 2000:119), yaitu:
H = -Jml pi ln pi

Dimana: H = Indeks keanekaragaman dan pi = n/N

Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam pengambilan data adalah binokular tasco 7 x 35, monocular Cebelas 60x, peta topografi skala 1:50.000, note book (Acer Intel Pentium II), tally sheet (lembar observasi), GPS Garmin eTrex, peta topografi skala 1:50.000, kompas sunto, buku panduan lapangan daerah Wallace, alat tulis, rol meter (ITO measure Japan 10 m/33 ft), tripod (U Slink 5000), jam tangan, tali plastik, pita tagging, klinometer (Silva survey Master), termometer ruangan dan kamera telelens digital (Panasonic Lumix DMC-FZ1, 12x Leica Zoom & FujiFilm Q1, 4x Zoom).

Hasil Dan Pembahasan

Komposisi Jenis
Berdasarkan hasil pengamatan pada empat tipe habitat di TNRAW, didapat 14 jenis elang dari tiga famili/suku (Pandionidae, Accipitridae dan Falconidae) yang dijumpai pada 14 lokasi pengamatan dari 22 lokasi yang disurvei (tabel 1), sedangkan individu elang yang ditemukan seluruhnya berjumlah 76 ekor (tabel 2). 14 jenis elang tersebut meliputi:

Famili Pandionidae
1. Elang Tiram (Pandion haliaetus)
Elang tiram ditemukan didaerah Sonai Makaleleo dengan tipe habitat daerah rawa. Terbang melintasi tunggal melintasi rawa. Dewasa berwarna putih keabuan, bagian ujung sayap hitam, ekor memiliki corak hitam putih.

Famili Accipitridae

2. Baja Jerdon (Aviceda jerdoni)

elang baja jerdon (dudi doc)

Individu dewasa ditemukan terbang tunggal didaerah gunung Malang dengan tipe habitat hutan dataran rendah. Tubuh berwarna merah karat, sayap hitam, terdapat plat hitam di ekor dengan ukuran plat diujung lebih besar dan memiliki jambul.

3. Sikep Madu Sulawesi (Pernis celebensis)
Ditemukan lima ekor pada tipe habitat yang berbeda, yaitu: satu ekor di savanna Laea sedang berburu tikus; dua ekor di hutan pampaea dan dua ekor di savanna Laondo. Semuanya merupakan idividu dewasa. Dada berwarna merah karat sayap hitam gelap bagian atas dan sayap bagian bawah hitam putih beralur, ekor hitam.
4. Elang Tikus (Elanus caerulus)

elang tikus tnraw (dudi doc)

elang tikus tnraw (dudi doc)

Ditemukan enam idividu di dengan lokasi yang berbeda masing-masing dua ekor di Laea, satu ekor soaring di perkebunan dan satu ekor di hutan. Kemudian di Laondo dengan tipe habitat savanna dijumpai satu ekor, dan masing-masing di tipe habitat hutan Pampaea satu ekor dan Pada-padai dua ekor. Lima ekor merupakan idividu dewasa dimana tubuh putih bagian punggung putih keabuabuan dan di sayap ada corak hitam dan satu remaja cirri-ciri mirip dengan induk namun bagian punggung abu-abunya gelap dan corak hitam pada sayap tidak terlalu tampak. Di Pada-padai tercatat sedang berbiak (ditemukan sarang).

5. Elang Bondol (Haliastur Indus)
Ditemukan dua individu pada dua daerah dan tipe habitat yang berbeda pula yaitu di Laea dengan tipe habitat perkebunan/pemukiman, kemudian di Dondolia dengan tipe habitat savanna. Semuanya merupakan individu dewasa dimana bagian perut kearah kepala berwarna putih sayap dan ekor merah karat, ekor meruncing kearah ujungnya.

6. Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster)
Ditemukan tiga individu di dua daerah yang berbeda yaitu di Mempaho dan di Laea, habitat kedua daerah tersebut ketika dijumpai elang laut perut putih ini merupakan habitat hutan. Ketiganya merupakan individu dewasa, dan tercatat dua individu di Mempaho sedang melakukan tarian kawin (kemungkinan sedang dalam masa berbiak). Elang laut perut putih ini tubuh bagian atas (mulai pangkal ekor sampai kepala putih keabuabuan), tubuh bagian bawah hitam kecuali ujung ekor putih, ujung ekor meruncing, punggung dan sayap berwarna abu-abu gelap.

7. Elang Ikan Kecil (Ichthyophaga humilis)

elang ikan kecil tnraw (dudi doc)

elang ikan kecil tnraw (dudi doc)

Elang-ikan kecil dijumpai tiga ekor yaitu di Hukaea dengan tipe habitat perkebunan/perkampungan, dan di Imesiu dengan tipe habitat hutan. Tubuh berwarna abu-abu gelap kecuali pangkal ekor sampai perut dan leher kearah kepala abu-abu terang.

8. Elang Ikan Kepala Kelabu (Ichthyophaga ichthyaetus)
Dijumpai satu idividu yang sedang melintasi daerah rawa di sekitar desa Sonai. Elang ini sepintas mirip dengan elang-ikan kecil namun ukurannya lebih besar dan plat hitan dipangkal ekor lebih jelas.

9. Elang Rawa Tutul (Circus assimilis)

elang rawa tutul tnraw (Dudi doc)

elang rawa tutul tnraw (Dudi doc)

Elang ini sangat umum menghuni savan dihampir seluruh kawasan Taman Nasional. Dijumpai 24 individu masing masing delapan ekor menempati tipe habitat hutan 14 ekor di savanna, dan 2 ekor di perkebunan/pemukiman. Sebagian besar merupakam individu dewasa hanya benberapa ekor saja dijumpai individu juvenil . individu dewasa bagian atas tubuh berwarna abu-abu, bagian bawah mulai pangkal ekor kekepala merah karat berbintik-bintik putih, ekor memiliki strip hitam putih.

10. Elang Ular Sulawesi (Spilornis rufipectus)

elang ular sulawesi tnraw (dudi doc)

elang ular sulawesi tnraw (dudi doc)

Dijumpai 12 individu dewasa di beberapa lokasi pengamatan yang masing-masing delapan ekor dijumpai di daerah hutan dan epat ekor di wilayah perkebunan/perkampungan. Burung ini dada berwarna merah karat, kepala hitam sayap dan ekor memiliki stip hitam putih, paruh dan kaki kuning.

11. Elang Hitam (Ictinaetus malayensis)
Memiliki tubuh yang hitam semua dengan ukuran tubuh cukup besar dibandingkan dengan elang yang lain. Terbang tanpa suara diatas tajuk pohon dan sering juga terlihat terbang berputar. Ditemukan 4 ekor: 3 ekor di hutan (1 ekor di Pokae, 1 ekor di Mempaho, 1 ekor di Laea) dan 1 ekor di perkebunan (Ahuawali).

12. Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus)
Ditemukan 11 ekor: 6 ekor pada hutan (Ahuawali: 1 pasang dan 1 ekor remaja; Ndun-dulia: 1 ekor dewasa; dan Eempaodu: 1 pasang), 4 ekor di savanna (Lampinapa: 1 pasang dan Wukulanu: 1 pasang) dan 1 ekor di areal perkebunan jambu mente Laea. Jarang bersuara, lebih banyak ditemukan saat soaring (terbang memutar keatas) dengan memnafaatkan suhu termal. Di ekor terdapat empat plat hitam. Warna leher putih banyak garis atau coretan coklat. Jari berwarna kuning dan di kaki berselang seling hitam putih.

Famili Falconidae
13. Alap-alap Macan (Falcon severus)
Alap-alap macan di jumpai dua individu di dua lokasi yaitu di hukaea dengan tipe habitat perkebunan/perkampungan dan di Sonai tepatnya di Gunung Anohu dengan tipe habitat hutan. Ukurannya kecil sebesar burung dara tubuh bagian atas berwarna hitam dan bagian bawah berwarna merah karat.
14. Alap-alap sapi (Falcon moluccensis)
Alap-alap sapi dijumpai hanya satu ekor di hutan sebelah timurt Eempaodu. Ukuran tubuh hampir sama dengan Alap-alap macan. Warna bagian punggung merah karat dan bagian bawah putih.

Indeks Keanekaragaman
Dari hasil penelitian didapatkan nilai keanekaragaman tertinggi pada tipe habitat hutan dataran rendah (H = 2,155). Kemudian indeks keanekaragaman pada tipe habitat lain berturut-turut adalah: tipe habitat perkebunan/pemukiman (H = 1,768), habitat savanna (H = 1,272) dan habitat rawa (H = 0,694) (tabel 3).
Tingginya keanekaragaman jenis di suatu habitat tergantung dari banyak faktor, seperti ketersediaan pakan yang cukup, tersedianya pohon sarang, dan predator. Karena elang merupakan pemangsa puncak, maka tidak memiliki predator selain manusia, sehingga yang ada adalah kompetitor bagi elang tersebut.
Hutan memiliki indeks keanekaragaman tertinggi karena daerah ini merupakan wilayah yang digunakan untuk aktivitas mencari makan dan tempat bersarang. Jenis-jenis burung pemangsa di hutan hujan tropis biasanya adalah jenis penetap (Adiputra, 2001). Jenis penetap yang bergantung kepada keberadaan hutan, dibuktikan dengan keberadaan elang laut perut putih (haliaeetus leucogaster) yang ditemukan berada di tipe habitat hutan dataran rendah. Padahal menurut MacKinnon dan Phillips (1993) elang laut perut putih adalah penetap yang umum disekitar daerah pantai, danau besar, dan sungai dekat pantai.
Daerah pemukiman/perkebunan juga memiliki nilai yang cukup tinggi, hal ini disebabkan letak pemukiman yang berada di dekat hutan. Sehingga tidak heran jika beberapa elang mencari mangsa ayam peliharaan. Semakin tingginya perambahan hutan dan berkurangnya makanan bagi elang menyebabkan hewan ini berburu didaerah-daerah yang sudah terbuka dan dihuni oleh manusia. Hal tersebut seperti dijelaskan Thiollay (1985, hilangnya suatu jenis karena rusaknya habitat tidak hanya pengaruh struktur vegetasi yang berubah, tetapi juga tergantung pada keberdaan mangsa, seperti yang terjadi pada elang-elang antara lain: Stephanoaetus atau bahkan Harpia banyak ditemukan kawasan di luar hutan dimana jenis-jenis mangsa masih ada. Selain itu, menurut Rov, dkk., (1998) ketika batas daerah teritori elang Jawa berbatasan dengan daerah yang terbuka, maka elang tersebut akan menjadikan areal tersebut sebagai daerah teritorinya.
Habitat rawa yang memiliki keanekaragaman paling rendah dikarenakan, waktu pengamatan yang lebih sedikit dibandingkan dengan waktu pengamatan di tipe habitat yang lain. Selain itu, habitat rawa hanya merupakan daerah mencari makan bagi beberapa jenis elang saja.
Habitat savanna adalah hamparan padang rumput yang sangat luas dan berbatasan langsung dengan hutan. Sehingga areal ini cocok untuk lokasi perburuan bagi elang. Tipe habitat hutan di TNRAW lebih terfragmentasi oleh savanna, menjadikan hutan-hutannya berkelompok-kelompok.

Pakan
Dari hasil pengamatan elang di TNRAW lebih sering terlihat berburu mangsa di habitat savanna. Dikarenakan areal ini terbuka, dan lebih mudah dalam mengintai mangsa. Banyaknya burung-burung semak seperti tikusan, puyuh, gemak dan jenis reptil dan mamalia kecil lain yang memanfaatkan savanna sebagai habitatnya, oleh sebab itu elang sangat menyukai habitat tersebut. Beberapa jenis elang juga memangsa ayam peliharaan penduduk.

Beberapa Jenis elang yang teramati sedang memburu mangsanya di TNRAW

1 Pernis celebensis teramati berburu Tikus hutan Paruromys dominator.
2 Elanus caerulus teramati berburu Tikus hutan Paruromys dominator.
3 Circus assimilis teramati berburu Tikusan merah Porzana fusca dan Puyuh batu Coturnix
chinensis

4 Spilornis rufipectus teramati sedang memakan ular dan anak ayam
5 Ictinaetus malayensis teramati sedang memakan Pergam Hijau Ducula aenea
6 Spizaetus lanceolatus teramati sedang memakan Puyuh batu Coturnix chinensis

Sarang
Jumlah pohon yang dijadikan sarang oleh elang teramati empat pohon. Dengan pohon longkida yang lebih sering dijumpai dan dijadikan sarang oleh elang rawa tutul. Pohon ini umum dijumpai di daerah savanna yang berbatasan dengan hutan. Dari keempat sarang, tiga sarang teridentifikasi aktif sedang mengerami dan satu sarang tidak aktif. Namun, hanya satu sarang yang dilakukan pengukuran yaitu sarang yang tidak aktif, dikarenakan tidak ingin mengganggu elang tersebut.

Sarang yang digunakan oleh elang

1. Elang tikus Elanus caerulus

sarang elang tikus tnraw (dudi doc)

sarang elang tikus tnraw (dudi doc)

Nama Pohon : Kolaka Parinarium corimbusum
Tinggi pohon : 20 m
Lokasi : Pada-padai
Letak sarang : di ranting bagian tengah kanopi
Ukuran sarang: –
Komposisi : –

2. Elang rawa tutul Circus assimilis

sarang elang rawa tutul tnraw (dudi doc)

sarang elang rawa tutul tnraw (dudi doc)

Nama Pohon : Longkida Nauclea orientalis dan Kayu putih Eucalyptus sp.
Tinggi pohon : 14-18,5m
Lokasi : Mempaho, Anohu dan Dekat jalan poros 9 km
Letak sarang : Di batang ujung atas kanopi dan di ranting atas kanopi
Ukuran sarang: Tebal = 10cm dan diameter sarang = 50cm x 60 cm
Komposisi : sarang barasal dari ranting kecil yang sebagian besar berasal dari
pohon longkida sendiri ditambah serpihan daun daunan dan rumput rumputan

Interaksi
1. Interaksi Eksternal (elang dangan burung lain)
a Walet sapi (Collocalia esculenta) menyerang kepala elang rawa tutul ketika soaring
b Kekep babi (Artamus leucorhincus) mengusir elang Sulawesi
c Tepekong jambul (Hemiprocne longipennis) mengusir elang Sulawesi yang sedang berburu
d Beberapa kekep babi (Artamus leucorhincus) menyerang elang tikus yang sedang bertengger di ujung pohon kering
e Srigunting jambul rambut (Dicrurus pottentottus) mengusir elang hitam yang betengger di pohon, sampai terbang elang tarsebut masih diserang
f Dua ekor walet palem Asia (Cypsiurus balasiensis) menyerang elang ular Sulawesi yang terbang di antara tajuk pohon
g) Kekep babi (Artamus leucorhincus) mengusir elang ular Sulawesi ketika memasuki arealnya
2. Interaksi Internal (elang dengan elang yang lain)
a Elang ular Sulawesi yang sedang terbang berpasangan berinteraksi mengusir elang bondol yang memasuki wilayahnya dan mengeluarkan suara
b Elang ular Sulawesi yang sedang terbang (melakukan tarian kawin) mengusir elang rawa tutul karena merasa terganggu atau terusik

Gangguan Terhadap Populasi Elang
Gangguan yang paling mengancam berbagai jenis burung pemangsa adalah hilang atau rusaknya habitat (Thiollay, 1994). Gangguan hutan adalah perubahan hutan menjadi lebih terbuka dan berpetak-petak dengan perbedaan dan penurunan jumlah hewan maupun tumbuhan. Walaupun secara ilmiah belum ada yang membuktikan seberapa besar pengaruh perubahan habitat, dalam hal ini alih fungsi lahan dan penebangan liar tanpa diikuti penanaman kembali terhadap populasi dan prilaku elang.
Gangguan dan ancaman terhadap elang khususnya di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai adalah karena akses yang mudah yaitu jalan yang datar menyebabkan mudahnya perambahan hutan, mulai dari pengambilan rotan, penebangan pohon kayu, alih fungsi habitat menjadi perkebunan, pengambilan batu dari dalam kawasan dan yang terparah adalah penjualan tanah kawasan. Menurut Kepala balai TNRAW Ir. Ridwan, kerusakan mencapai 9000 Ha (Kompas, Rabu 19 Januari 2005). Kerusakan tersebut bisa jadi akan jauh lebih besar.
Masyarakat setempat menganggap bahwa semua jenis elang adalah merugikan bahkan disebut sebagai hama yang memangsa ayam peliharaan. Kendati demikian, masyarakat tidak tertarik untuk menangkap atau memburu elang untuk dipelihara ataupun diperjualbelikan. Kondisi ini bisa menjadi jalan masuk yang menguntungkan bagi upaya konservasi. Masalah elang sebagai hama dapat dijadikan pembelajaran terhadap masyarakat karena habitat tempat tinggalnya sudah tidak menyediakan makanan yang cukup lagi, sehingga elang memakan ayam peliharaan. Dari masalah ini dapat dijadikan acuan bahwa elang sangat bergantung terhadap habitatnya.

Upaya Konservasi
Konservasi menurut Rosidi (2004:9.22) adalah salah satu program dalam pengelolaan sumber (daya) alam yang ditujukan dan dilaksanakan melalui upaya perlindungan, pengawetan atau pelestarian dan pemanfaatan sumber (daya) alam. Pengelolaan yang didasarkan pada pemanfaatan yang tidak secara berlebihan dan tidak menimbulkan kerugian bagi lingkungan.
Burung pemangsa yang sangat bergantung sekali pada kondisi habitat tempat tinggalnya, menjadikan burung ini sangat bergantung sekali pada habitat tersebut. Walaupun hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk burung pemangsa memanfaatkan tipe habitat lain seperti perkebunan, hutan produksi, sawah/ladang jagung, dan daerah lain akibat semakin terdesaknya hutan sebagai habitat utama mereka.
Jalan yang paling efektif untuk dapat menjaga hutan adalah kerja sama dari berbagai pihak baik Pemerintah, LSM maupun masyarakat. Dengan kerja sama tersebut upaya untuk penyelamatan hutan sebagai habitat elang dapat terlaksana secara maksimal, sehingga kita tidak kehilangan kesempatan untuk dapat mempelajari kehidupan elang sebelum punah.

Daftar Acuan
Bibby, C., Jones, M. & Marsden, 2000. Tekhnik-tekhnik Ekspedisi Lapangan Survey Burung (terjemahan). Birdlife International Indonesia Programme. Bogor.
Coates, B. J., Bishop, K. D., & Garder, D., 2000. Panduan Lapangan Burung-burung di Kawasan Wallacea (terjemahan). BirdLife International Indonesia Programme And Dove Publications Pty. Autralia. P. 1 & 23.
Dephut RI, Unesco & Cifor. 2003. Buku Panduan 41 taman Nasional di Indonesia. Insan Graphika. Bogor.
Kinnaird, F. M., 1997. Sulawesi Utara: Sebuah Panduan Sejarah Alam. GEF-Biodiversity Collections Project-Yayasan Pengembangan Wallacea.
MacKinnon, J., dan K. Phillips, 1993. A Field Guide to The Birds of Borneo, Sumatera, java and Bali. Oxfort.
Meyburg, U. B. & Balen van B., 1994. Raptor on Sulawesi (Indonesia): The Influence of Rain Forest Destruction and Human Density on their Populations. Raptor Conservation Today. WWGBP/The Pica Press. P. 1.
Nandika, D., 2004. Dunia Burung Pemangsa. Warta Leucopsar. Vol 02, No. 02 April.
Nurwatha, F. P., Zaini, R. & Wahyu, R., 2000. Distribusi dan Populasi Elang Sulawesi Spizaetus lanceolatus di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah (Terjemahan). YPAL. Bandung. P. 1-5.
Prawiradilaga, D. M., dkk, 2003. Panduan Survei Lapangan dan pemantauan Burung-burung Pemangsa. Biodiversity Conservation Project-Japan International Cooperation Agency. Jakarta. PT. Binamitra Megawarna.
Rosidi, S. 2004. Ekologi Tumbuhan; Teori dan Aplikasi. Departemen Biologi F MIPA UI. Depok.
Rov, N. Gjershaug, J. O., dan Hapsoro, 1998. Abundances of territorial Rainforest Eagles in The Halimun Mountains, West Java. Proceeding of Asian Raptor Researvh and Conservation, The Committee for the Symposium on raptors of South-East Asia, Shiga, Japan.
Sözer, R., V. Nijman dan I. Setoawan, 1999. Panduan Identifikasi Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Biodiversity Conservation Project (LIPI – JICA – PKA). Bogor.
Tepu, M., 2004. Mengungkap Pesona Wisata Ditaman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Surili. Vol. 30/No. 1/Maret. Hal 54 – 57.
Thiollay, J. M., 1996. Distributional Patterns of Raptors Along Altitudinal Gradients in The Northern Andes and Effects of Forest Fragmentation. Journal of Tropical Ecology 12, 535-560. Cambridge University Press.
Thiollay, J. M., 1985b. Composition of Falconiform Communities along Succesional Gradients from Primary Rain Forests to Secondary Habitats, I. Newton dan R. D. Chancellor (Eds.), ICBP Technical Publications No. 5.
Thiollay, J. M., & Zaini, R., 2001. The Raptor Community of Central Sulawesi: Habitat Selection and Conservation Status. Biological Conservation 107, 111-122.
Thiollay, J. M. 1994. Family Accipitridae (Falconiformes), dalam : Handbool of The Birds of The World Vol. 2 New World Vultures to Guineafowl, del Hoyo, J., Elliot, A. dan Sargatal J. (Eds.), Lynx Editions, Barcelona.
Wardill, J. C., Fox, Hoare, Marthy & Anggraini, 1998. Birds Of The Rawa Aopa Watumohai National Park, South-East Sulawesi. Kukila 10:91-114.

Artikel disadur dari hasil penelitian Dwi Agustina, S.Si & Dudi Nandika, S.Si (http://id.netlog.com/Al_amy/blog)

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

3 thoughts on “Keanekaragaman Jenis Elang pada Tipe Habitat yang Berbeda

  1. This is the right website for anybody who wantss to find
    out about this topic. You understand so much its
    almost tough to argue with you (not that I personally would wat to…HaHa).
    You certainly put a fresh spin on a subject which has been discuissed
    for years. Excellent stuff,just great!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s