Konservasi Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di TN Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara

telur maleo

telur maleo

“Dahulu kami sering bepergian melewati Mempaho dan Pampaea, berhamburan burung-burung maleo terbang di sekitar jalan yang kami lalui. Apalagi kalau menengok tanah berpasir di pinggir sungai Pampaea. Mereka rebutan bikin lubang buat telur-telurnya. Kasihan itu maleo, sekarang sudah semakin jarang…” tutur Pak La Sifu.

Perlindungan Maleo

Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan salah satu burung endemik Sulawesi yang banyak menarik perhatian baik lokal maupun Internasional dan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan jenis unggas lainnya. Penyebarannya di Sulawesi cukup luas utamanya di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Maleo adalah sejenis megapoda yang memiliki telur besar.  Ukuran telur maleo enam kali besar telur ayam.  Burung maleo memiliki sistem perkembangbiakan yang unik, yaitu dengan cara meletakkan telurnya secara bersama-sama disuatu tempat yang berpasir. Keberadaannya dilindungi berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya serta PP No.7 Tahun 1999, tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa

Karakteristik Habitat Maleo

Maleo merupakan salah satu spesies prioritas nasional yang keberadaannya dilindungi di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Salah satu habitatnya adalah Blok hutan Mempaho. Secara administratif, blok hutan ini berdekatan dengan batas Kabupaten Bombana dan Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Blok hutan Mempaho memiliki 2 tipe formasi vegetasi, yaitu formasi vegetasi hutan pegunungan dataran rendah dan kelompok vegetasi khas Savana.  Ke arah perbukitan, formasi vegetasi  didominasi oleh beberapa jenis pepohonan seperti, Kuia (Alstonia scolaris), Nona (Metrosideros petiolata),  dan Bitti/kulipapo (Vitex sp) dan Dalisi.  Selain tumbuhan berhabitus pohon juga banyak tumbuh sejenis tumbuhan berduri berbentuk semak yang biasa disebut Seu-seu.  Sementara ke arah dataran yang luas mengikuti Sungai Pampaea dan Mandu-mandula terbentuk suatu formasi vegetasi yang didominasi Cemara (Casuarina sp), Bambu duri (Bambusa spinosa) dan Nona (Metrosideros petiolata), Kasumeeto (Diospyros sp), Taipa hada (Mangifera sp). dll. Sedangkan hamparan Savana didominasi oleh rumput Kurapada dan Alang-alang (Imperata cylindrical).

Kondisi topograsi dicirikan oleh karakteristik lahan yang rata dan berbukit. Areal peneluran berada di atas bukit berbatu yang merupakan bekas galian material batu untuk timbunan.  Pada sisi sebelah Utara dan Timur merupakan lahan terbuka dan datar dan merupakan bagian dari hamparan Savana yang luas ke arah Sungai Mandu-mandula.  Sedangkan pada sisi sebelah Barat hingga Selatan merupakan daerah berbukit yang ditumbuhi oleh semak dan pepohonan yang merupakan bagian dari kawasan hutan luas yang melintasi Gunung Watumohai. Di sebelah Timur terdapat Sungai Mandu-mandula yang berjarak sekitar 600 meter.

Manusia, ancaman terbesar kelestarian maleo

DAS Mempaho saat ini mengalami tekanan akibat berbagai aktivitas manusia. Perburuan liar masih sering terjadi. Meskipun tidak memiliki daging sebanyak rusa, maleo tak luput dari sasaran perburuan. Ancaman kelestarian lainnya terutama diakibatkan oleh pengambilan telur di habitat aslinya.

Kejadian tersebut sangat ironis mengingat maleo hanya menghasilkan telur dalam jumlah yang sangat sedikit/tahun. Itu pun hanya terjadi di musim-musim bertelur saja. Jumlah itu belum dikurangi oleh aktivitas satwa pemakan telur seperti biawak, semut dan babi hutan yang sering melakukan penggalian untuk mencari makan. Namun, aksi satwa predator tersebut bukan sesuatu yang paling diwaspadai. Sebab telur yang dimakan biasanya hanya telur-telur yang tidak terlalu dalam terkubur sehingga mudah digali. Ini agak jarang terjadi mengingat maleo merupakan burung yang cukup protektif dan sangat berhati-hati dalam menaruh telurnya.

Kebakaran menjadi ancaman rutin di musim kemarau

Intensitas kebakaran hutan di Mempaho tergolong cukup tinggi terutama terjadi di areal padang savana. Alang-alang yang mendominasi savana merupakan bahan yang mudah terbakar. Kondisi kekeringan yang berlangsung lama mendorong terjadinya kebakaran. Pada umumnya kebakaran yang terjadi di daerah ini sebagian besar diduga dilakukan secara sengaja oleh manusia.

Kebakaran hutan dan savana merupakan salah satu ancaman kelestarian maleo dan berbagai jenis burung lainnya. Kebakaran menyebabkan hilangnya sumber pakan dan tempat berbiak (sarang). Dalam jangka panjang tentu saja hal ini akan berakibat menurunnya populasi satwa yang hidup di daerah ini.

Upaya pembinaan habitat

pemagaran maleo

pemagaran

Pembinaan habitat burung maleo di Mempaho telah dirintis sejak tahun 2006 silam. Tim Balai TNRAW yang terdiri atas para fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) melakukan pengkajian lapang habitat Mempaho. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa kondisi habitat yang sebenarnya. Data-data yang diperoleh kemudian diolah untuk merancang bentuk-bentuk pembinaan habitat yang akan dilakukan. Diharapkan dengan adanya pembinaan habitat maleo ini, laju degradasi populasi maleo di TNRAW dapat ditahan.

Baru pada akhir tahun 2006 dilakukan kegiatan fisik pembinaan habitat yang terbagi menjadi 2 bentuk, yaitu pemagaran dan pengkayaan vegetasi sumber pakan. Kegiatan pengkayaan vegetasi dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan daya dukung habitat terhadap populasi maleo. Jenis-jenis pohon yang dipilih memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai tanaman pelindung dan sumber pakan. Pemilihan ini tidak dilakukan secara sembarangan karena jenis tanaman yang dipilih haruslah merupakan flora asli setempat. Hal ini terkait dengan usaha mengawetkan keunikan ekosistem asli di Mempaho. Berikut ini jenis-jenis tanaman yang digunakan untuk pengkayaan jenis :

TABEL JENIS-JENIS POHON PENGKAYA VEGETASI MALEO

No

Jenis

Fungsi

Strata

Pelindung

Sumber Pakan

1 Kirinyuh (Eupathorium sp)

+

D

2 Rao (Dracontomelon mangiferum)

+

+

C/B

3 Beringin (Ficus spp)

+

+

C/B

4 Kemiri (Aleurites molucana)

+

+

C/B

5 Caesalpinia pulcherrima

+

B/A

6 Mangga hutan (Mangifera sp)

+

+

C/D

Keterangan : (+) ya (-) tidak

Penanaman dilakukan di daerah-daerah terbuka di sekitar tempat bertelur dan juga di daerah bervegetasi namun miskin sumber pakan. Tempat bertelur dibiarkan terbuka untuk merangsang burung maleo untuk datang dan bertelur. Sayangnya upaya penanaman ini masih belum memberikan hasil yang optimal. Namun demikian Balai TNRAW merencanakan upaya pembinaan habitat dan populasi satwa ini sebagai salah satu prioritas pengelolaan keanekaragaman hayati. Tentunya upaya ini perlu didukung oleh semua pihak agar sukses. Mudah-mudahan.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s