Safari Mangrove TNRAW : Bernuansa Pendidikan dan Wisata

Dalam paket ekowisata mangrove, pengunjung diajak menikmati sebuah perjalanan bernuansa pendidikan yang sangat menarik. Perjalanan air menggunakan alat angkut katinting siap menunggu di Darmaga Lanowulu. Pemandu wisata akan setia memandu selama perjalanan berlangsung. Namun perlu diingat sebelum melakukan kunjungan, jalin komunikasi dengan petugas, mereka akan memberi informasi penting untuk persiapan perjalanan pengunjung.

Mengenal Darmaga Lanowulu

Tiba di Darmaga Lanowulu, kita dapat menikmati bibir hutan mangrove TNRAW. Di sini terdapat perpaduan antara hutan bakau yang tumbuh di kiri-kanan sungai dengan hutan dataran rendah. Karena aliran sungai ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut, maka sebaiknya memuliai perjalanan pada saat air pasang, yakni antara pukul 10.00 sampai dengan 13.00 Wita. Di Darmaga ini warga nelayan muara biasa beristirahat melepaskan lelah sehabis memasang bubu. Pengunjung diperkenalkan dengan berbagai macam alat tangkap sekaligus berkomunikasi langsung dengan warga yang tiap hari mencari kepiting di perairan bakau.

Perjalanan Menyusuri Mangrove

Selama perjalanan, kita akan diperkenalkan dengan formasi hutan mangrove yang tumbuh dari titik terjauh sampai titik terdekat garis pantai. Selanjutnya kita bisa mengenali dari dekat keanekaragaman hayati mulai dari jenis nipah, Brugueira, Rhyzophora, Ceriops sampai dengan Api-api. Katinting berjalan diatur tidak terlalu cepat, sekitar 15 km/jam, sehingga memungkinkan untuk menikmati keanekaragaman jenis vegetasi mangrove lebih jelas.

Mengunjungi Lokasi Rehabilitasi Mangrove

Salah satu daya tarik ekowisata ini yaitu rute yang melalui lokasi rehabilitasi mangrove. Di tempat itu, kita dapat melihat bakau-bakau muda hasil penanaman swadaya masyarakat. Sebelumnya lokasi ini adalah tempat yang terbuka karena pohon-pohon bakau yang dahulunya ada ditebang secara liar. Tentu saja rusaknya habitat bakau berpotensi menurunkan nilai tangkapan kepiting dan ikan warga Muara Lanowulu. menyadari hal tersebut, warga bahu-membahu melakukan rehabilitasi dengan melakukan penanaman mangrove muda.

Sebagai pengunjung, kita diajak untuk singgah di lokasi rehabilitasi mangrove. Petugas akan menjelaskan pengertian tentang arti penting mangrove bagi kehidupan manusia. Lalu dengan memanfaatkan buah bakau dari tempat sekitarnya, kita diajak melakukan penanaman bakau secara langsung di areal yang kosong.

Mengamati Togo

Togo adalah alat tangkap yang biasa digunakan warga muara untuk menangkap udang-udang kecil yang mereka sebut udang rebon/balaceng. Udang kecil ini nantinya dimanfaatkan untuk membuat terasi. Togo memiliki arti lebih dari alat tangkap biasa. Alat ini telah menjadi identitas budaya warga muara. Togo yang sekarang banyak dipakai warga merupakan hasil modifikasi sendiri alat tangkap udang/ikan sejak tahun 1950-an.

Uniknya, togo dipasang berselang-seling. Menurut warga muara ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan udang-udang beregenerasi di masa mendatang. Hal ini mengingat togo menggunakan jaring yang mampu menangkap ikan maupun udang berukuran kecil. Dengan metoda ini maka penangkapan udang kecil tidak mengganggu kemampuan udang untuk berkembangbiak kembali.

Keunikan gubuk muara

Warga muara biasa membangun gubuk di atas permukaan air laut. Bentuknya cukup sederhana. Untuk menopang beban bangunan, digunakan kayu bayam sebagai tiang penyangga. Sedangkan lantai gubuk memanfaatkan kayu bakau (masih berbentuk silinder) berdiameter ± 6 cm. Sebagai penguat rangka bangunan, masyarakat pesisir lebih menyukai penggunaan tali /pasak kayu daripada paku. Pada bagian atap ditutup menggunakan daun rumbia.

Memandang hamparan Taparang

Pernahkan melihat ratusan hektar lahan yang secara alami tak bervegetasi di dalam ekosistem hutan mangrove ? Keunikan ini dimiliki oleh ekosistem mangrove TNRAW. Masyarakat sekitar menyebut lokasi ini dengan sebutan Taparang, lokasinya dilewati Sungai yang menuju Muara Waemata. Jika di Mangrove orang membayangkan harus merayap diantara perakaran bakau untuk bergerak, lain halnya di Taparang. Di situ orang bisa berlari tanpa kuatir terjeblos ke dalam lumpur.

Kondisi tanah yang padat dan rata diduga menjadi penyebab sulitnya propagul bakau menancap di tanah. Sehingga calon anakan yang secara alami jatuh ke tanah, ketika ada pasang surut hanyut terbawa air.

Atraksi burung air

Pejalanan dengan mengendarai katinting di laut dan muara juga akan disuguhi atraksi burung air. Di bagian laut, kita dapat melihat belasan burung terbang menukik menyambar ikan. Setelah beberapa saat berada di air, burung tersebut terbang kembali ke atas. Tak lama berselang burung tersebut menukik kembali ke laut. Aktivitas burung tersebut dilakukan berulang-ulang sampai mendapatkan mangsa dalam jumlah yang cukup untuk mengisi perutnya.

Di sungai-sungai yang bermuara ke laut, kita juga dapat melihat beberapa pecuk sedang hinggap di ranting-ranting pohon bakau. Mereka biasa bertengger untuk mengeringkan badan atau mencari mangsa. Ikan laut adalah salah satu kesukaannya.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s