Potensi dan Implikasi Penetapan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Sebagai Situs RAMSAR ke-1944

Tanggal 6 Maret 2011,bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Ramsar ke-41, situs Ramsar di Indonesia bertambah 2 lokasi. Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) masuk dalam list situs ramsar dunia pada urutan 1944, disusul Taman Nasional Sembilang pada urutan 1945. Penetapan ini menyusuli 3 situs yang telah ditetapkan lebih dulu, yakni TN Berbak, Danau Sentarum dan TN Wasur. Sehingga sampai bulan April 2011, Indonesia telah memiliki 5 situs Ramsar dengan cakupan luas 964.600 hektar.

 

Pendahuluan

Secara Geografis, TN Rawa Aopa Watumohai terletak di antara 121°44’ -122°44’ Bujur Timur dan 4°22’-4°39’ Lintang Selatan. Sebelum ditetapkan, kawasan ini pada mulanya berstatus sebagai Suaka Margasatwa dan Taman Buru. Di bagian utara, kawasan Rawa Aopa ditunjuk sebagai Suaka Margasatwa dicirikan oleh keberadaan rawa gambut yang unik beserta beragam burung air yang ada di dalamnya. Sedangkan di bagian selatan berstatus sebagai Taman Buru didukung oleh karakteristik ekosistem yang cocok untuk wisata berburu. Wilayah savanna yang cukup dominan dan keberadaan rusa timor yang sangat melimpah saat itu menjadi pertimbangan tersendiri terhadap penunjukkan kawasan.

Baru pada tahun 1990, kawasan tersebut ditetapkan sebagai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dengan luasan 105.194 ha. Penetapan ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 756/Kpts-II/1990 yang ditandatangani tanggal 17 Desember 1990. Wilayahnya terbagi ke dalam 4 Kabupaten. Luasan kawasan pada masing-masing kabupaten digambarkan tabel berikut :

NO Kabupaten Luas (Ha) %
1. Konawe 6.238 5,93
2. Konawe Selatan 40.527 38,53
3. Kolaka 12.824 12,19
4. Bombana 45.605 43,35
TOTAL 105.194 100,00

Tabel 1. Wilayah Administrasi Pemerintahan Kawasan TNRAW

Kekayaan Ekologis Kawasan

Kawasan TN Rawa Aopa Watumohai memiliki kekayaan ekologis yang cukup tinggi. Wilayah ini tercatat dihuni lebih dari dari 500 jenis tumbuhan (110 famili) dan fauna yang meliputi mamalia 28 jenis (13 jenis diantaranya endemik Sulawesi), amphibia 4 jenis (1 jenis diantaranya endemik Sulawesi), reptilia 7 jenis, serta burung 207 jenis (38 jenis diantaranya endemik Sulawesi dan 9 jenis endemik Indonesia).

Tingginya keragaman jenis satwa endemik tak terlepas dari posisi taman nasional yang berada pada sabuk Wallacea. Hal ini berdampak pada peran strategis TN Rawa Aopa Watumohai sebagai tempat perlindungan satwa-satwa peralihan yang tidak dijumpai pada Zona Asiatika (Indonesia bagian barat) maupun Zona Australia (Indonesia bagian timur). Satwa endemik ini dapat dijumpai pada keempat tipe ekosistem yang menyusun taman nasional, yaitu ekosistem savanna, mangrove, rawa dan hutan pegunungan dataran rendah. Keempat ekosistem tersebut membentuk keterpaduan yang memiliki peran yang saling berkaitan antara satu tipe ekosistem dengan tipe ekosistem lainnya.

Hidup pula di kawasan ini beberapa satwa prioritas nasional, seperti anoa dataran tinggi (Ikon Propinsi Sulawesi Tenggara), anoa dataran rendah, babirusa, maleo, elang sulawesi, rangkong sulawesi dan kakatua jambul kuning.

Karakteristik Lahan Basah Yang Unik dan Kaya

TN Rawa Aopa Watumohai memiliki dua lahan basah yang berperan penting dalam menunjang ekologis, hidrologis maupun sosek masyarakat sekitar. Di bagian utara terdapat Rawa Aopa (± 11.488 ha) serta Gunung Makaleleo sebagai daerah tangkapan air yang memasok debit air Rawa Aopa. Kawasan ini memiliki fungsi strategis sebagai perwakilan rawa gambut Sulawesi sekaligus daerah perlindungan burung air dan satwa migran. Hidup di kawasan ini lebih dari 200 ekor burung berstatus rentan jenis Aroweli (Mycteria cinerea) yang dapat dijumpai terutama pada musim-musim kemarau.

Rawa Aopa juga memiliki peran sebagai penyeimbang tata air kawasan-kawasan di sekitarnya. Pada saat musim kemarau, Rawa Aopa memasok air ke sungai-sungai yang berada di bawahnya. Sehingga mencegah terjadinya kekeringan atau penurunan debit secara drastis. Sebaliknya, pada musim penghujan Rawa Aopa berfungsi sebagai penampung arus balik dari luapan sungai-sungai di bawahnya. Sehingga mencegah terjadinya banjir karena naiknya volume air. Kondisi debit yang relatif stabil ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan irigasi, kebutuhan rumah tangga dan perikanan darat.

Di bagian selatan kawasan terdapat ekosistem mangrove dengan luasan ± 6.173 ha. Berfungsi sebagai daerah tangkapan air, kawasan Gunung Watumohai dan ekosistem Savana yang membentang dari Kabupaten Konawe Selatan sampai dengan Kabupaten Bombana. Kawasan ini merupakan satu-satunya hutan mangrove yang tersisa di Sulawesi Tenggara yang kondisinya masih utuh dan cukup luas.

Hidup di kawasan ini berbagai jenis burung air seperti Aroweli (Mycteria cinerea) dan Pecuk ular (Anhinga melanogaster), serta jenis lain seperti buaya muara (Crocodilus porosus), Biawak (Varanus salvator), Kura-kura (Coura amboinensis), Soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), Anoa dataran rendah (Bubalis depressicornis), dan Babi hutan (Sus scrova). Bagi masyarakat sekitar, kawasan ini memiliki peranan penting sebagai penyedia ikan, udang dan kepiting, khususnya pada kawasan-kawasan yang ditetapkan sebagai zona tradisional.

Visi Konvensi Lahan Basah Internasional

Penggunaan nama Ramsar sebagai situs lahan basah internasional mengacu pada konvensi lahan basah yang disepakati di kota Ramsar Iran pada tahun 1971. Konvensi lahan basah merupakan perjanjian antar Negara yang memiliki tujuan untuk membangun kerjasama lokal, regional dan internasional dalam rangka konservasi dan pengelolaan lahan basah secara berkelanjutan bagi kepentingan global (Ramsar handbook, 2007)

Pembuatan list Ramsar Site memiliki visi membangun dan mempertahankan kerjasama lahan basah internasional yang memiliki nilai penting bagi konservasi keanekaragaman hayati dan keberlanjutan hidup manusia melalui pengelolaan ekosistem, proses-proses serta manfaat yang ada di dalamnya (Resolusi IX.1 Bagian B, 2005)

Suatu situs dapat ditetapkan sebagai lahan basah internasional apabila memenuhi dua kriteria pokok. Kriteria pertama, lahan basah tersebut memiliki keterwakilan, jarang dan unik. Sedangkan kriteria kedua adalah peran pentingnya dalam konservasi keanekaragaman hayati. Kriteria ini mencakup peran ekologis yang dimiliki, keberadaan burung air, ikan serta spesies lain yang memiliki ketergantungan pada situs lahan basah.

Dengan ditetapkannya TN Rawa Aopa Watumohai sebagai situs Ramsar, ada beberapa implikasi bagi Pemerintah kita, diantaranya sebagai berikut :

  1. Membuat perencanaan dan melaksanakan program terkait perlindungan lahan basah beserta flora dan fauna yang ada di dalamnya.
  2. Melakukan monitoring dan pembinaan habitat serta populasi burung migran yang merupakan aset internasional karena memiliki daerah lintasan antar negara.
  3. Menginformasikan sedini mungkin jika terjadi perubahan terhadap karakter ekologis lahan basah di wilayahnya, baik sedang dalam proses perubahan atau ada tanda-tanda berubah sebagai hasil dari perkembangan teknologi, polusi atau bentuk gangguan manusia lainnya.
  4. Apabila terpaksa luasan area perlindungan dikurangi karena kepentingan nasional, maka perlu mengkompensasi hilangnya sumber daya lahan basah, khususnya dengan membuat cagar alam tambahan untuk burung air dan perlindungannya, baik di daerah yang sama atau di tempat lain, pada area yang memadai di habitat aslinya.
  5. Mempromosikan konservasi lahan basah dan burung air serta melakukan perlindungan secara memadai.
  6. Mendorong penelitian dan pertukaran data dan publikasi mengenai lahan basah beserta flora dan fauna yang hidup di dalamnya.
  7. Mempromosikan pelatihan personil yang kompeten di bidang penelitian lahan basah, manajemen dan perlindungan.
  8. Memastikan bahwa di setiap tingkatan manajemen lahan basah harus diinformasikan mengenai hasil rekomendasi Konferensi lahan basah terkait pelaksanaan konservasi, manajemen dan pemanfaatan bijaksana lahan basah beserta flora dan fauna yang ada di dalamnya.
  9. Melakukan koordinasi lintas negara terutama terhadap negara-negara yang memiliki satu kesatuan ekologis dan menghadiri konferensi lahan basah internasional yang dihadiri oleh negara-negara anggota konvensi
  10. Melakukan pengelolaan lahan basah beserta flora dan fauna yang ada di dalamnya dengan standar pengelolaan internasional sesuai hasil kesepakatan bersama.

Penetapan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai sebagai situs Ramsar ini sama sekali tidak menghilangkan kewenangan eksklusif Pemerintah RI dalam pengelolaan kawasan TNRAW.

Penutup

Penetapan TN Rawa Aopa Watumohai sebagai situs Ramsar ke-4 di Indonesia dan yang pertama di Pulau Sulawesi merupakan wujud kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. Diperlukan dukungan semua pihak khususnya para pemangku kepentingan terhadap eksistensi kawasan, proses-proses beserta fungsi-fungsinya, agar kawasan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Intensifikasi dan dukungan terhadap pengelolaan situs Ramsar juga menjadi salah satu indikator keseriusan Pemerintah Indonesia dalam kerjasama internasional terkait perlindungan lahan basah. Sehingga diperlukan serangkaian upaya yang terarah dan berkelanjutan dalam rangka memonitoring sekaligus mengoptimalkan peran situs Ramsar bagi kehidupan global.

(referensi : publikasi pada http://www.ramsar.org)

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s