Tikar Tolaki, Kerajinan Rakyat yang Makin Terlupakan

Dahulu kala, tikar Tolaki merupakan kerajinan yang sangat digemari oleh masyarakat. Tidak lengkap rasanya sebuah keluarga yang menghuni suatu rumah tidak memiliki tikar khas ini. Sehingga tak heran, dahulu para pendatang di daerah Sulawesi Tenggara biasa menjumpai tikar tolaki di setiap rumah yang mereka kunjungi. Namun sayang pemandangan itu kini makin sulit ditemui…

Pembuatan tikar pada masyarakat tradisional

Membuat tikar merupakan satu bentuk kerajinan yang dikuasai oleh masyarakat Tolaki di sekitar TNRAW. Keterampilan ini dimiliki masyarakat turun-temurun dan telah menyatu dengan sistem kebudayaan setempat. Tikar bukan hanya barang yang dipakai sebagai alas tidur atau tempat duduk-duduk saja, lebih dari itu tikar tolaki memiliki nilai intrinsik yang sangat dihargai. Suku tolaki menggunakannya dalam bernagai upacara adat yang mereka selenggarakan, seperti pada pesta adat perkawinan, panen atau menyambut tamu.

Di dalam masyarakat tradisional tolaki, terdapat pembagian kerja tersendiri. Ketika ingin membuat tikar, seorang suami mencari bahan baku tikar dari hutan. Bahan baku yang diambil tergantung jenis tikar yang akan dibuat, dapat berupa daun agel atau daun pandan. Selanjutnya bahan-bahan itu dijemur sampai kering, baru dibawa pulang. Dari sini menjadi kewajiban seorang istri untuk menganyam bahan-bahan yang di bawa pulang oleh suaminya. Proses pembuatan ini tidak memakan waktu lama karena jumlah tikar yang dibuat sedikit. Hasilnya hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh keluarga yang bersangkutan. Terkecuali jika ingin mengadakan pesta adat, tikar yang dibuat lebih banyak.

Terdapat perbedaan penampilan fisik tikar adat dengan tikar biasa. Corak maupun motif tikar untuk keperluan adat lebih menonjol dengan menggunakan bahan-bahan pilihan. Warna-warna kontras menjadi salah satu karakteristik yang menyusun pola-pola tertentu pada tikar. Tikar untuk keperluan adat terkadang menampilkan kombinasi beberapa segi empat dengan ukuran sisi yang berbeda bergabung menjadi satu. Masing-masing segi empat menampilkan warna-warna yang berbeda sehingga nilai artistik lebih tampak pada permukaan tikar.

Tikar untuk keperluan sehari-hari biasanya polos, tanpa kombinasi warna bahan yang berarti. Kualitas bahannya pun kurang memperhatikan persyaratan kualitas bahan yang tinggi. Sehingga produk tikar yang dihasilkan pada umumnya lebih kasar, tipis dan kurang awet. Produk seperti ini digunakan untuk alas dipan, penutup jendela maupun tempat berkumpulnya anggota keluarga ketika sedang beristirahat.

Teknik pembuatan tikar

  • Pemanenan dilakukan terhadap pohon agel/pandan. Pekerjaan dilakukan dengan cara mengambil daun-daun yang telah berumur remaja (tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua).
  • Setelah dipanen, daun kemudian dijemur selama sehari semalam.
  • Setelah daun lembab dan layu, kemudian digulung membentuk lingkaran-lingkaran besar.
  • Dengan menggunakan alat berupa mata cutter yang lebarnya disesuaikan dengan lebar anyaman yang akan dibuat, maka daun-daun agel/pandan dibelah sesuai dengan lebar anyaman yang akan dibuat.
  • Setelah daun-daun terbelah dalam ukuran-ukuran yang sama maka daun–daun agel/pandan siap dianyam. Untuk tikar dengan modifikasi khusus seperti warna maka dilakukan pengolahan lanjutan.
  • Selain itu juga terdapat modifikasi berupa kain pelapis yang dijahit di bagian tepi-tepi tikar.

Tikar Tolaki makin terlupakan

Cukup ironis, makin lama kerajinan tradisional yang menjadi ciri khas kebudayaan Tolaki ini makin menghilang. Jika 20 tahun yang lalu, tikar tolaki menjadi kebutuhan dasar penduduk, namun kini pemandangan itu makin sulit ditemui. Bagaimana tidak, generasi muda tolaki mulai enggan untuk mempelajari kerajinan membuat tikar. Praktis hanya ibu-ibu rumah tangga atau orang tua saja yang menguasai teknik pembuatan kerajinan tangan ini. Setidaknya ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kerajinan ini makin menghilang dari kehidupan masyarakat di sekitar TNRAW;

1. Desakan tikar buatan pabrik

Tikar buatan pabrik selain lebih awet juga menampilkan corak-corak yang bervariasi. Konsumen juga lebih mudah memperoleh tikar buatan pabrik karena tersedia banyak di toko-toko peralatan rumah tangga. Keunggulan-keunggulan tersebut telah merubah preferensi masyarakat untuk lebih memilih tikar buatan pabrik dari pada tikar adat. Tikar pabrik biasanya terbuat dari plastik/nilon yang kuat dan tidak mudah rusak. Corak-corak yang ditampilkan juga beragam sesuai dengan kesukaan masyarakat.

Produk alas lantai plastik dan karpet yang makin berkembang juga makin mendorong kelangkaan tikar rakyat. Alas lantai plastik bersifat kedap air dan mudah dibersihkan. Sedangkan tikar rakyat menyerap air dan pada kelembaban tertentu biasanya berjamur. Tentu saja dengan hadirnya cendawan akan merubah penampilan fisik tikar. Tikar menjadi lebih kusut dan berubah warna menjadi kecoklatan atau kehitam-hitaman. Kondisi ini mengurangi nilai estetika tikar rakyat.

2. Kesulitan memasarkan produk

Kesulitan pemasaran disebut-sebut menjadi faktor penghambat usaha di bidang kerajinan tikar. Masalah ini juga dialami oleh para pengrajin tikar rakyat di Desa Tatangge, salah satu desa penyangga TNRAW. Lokasi pemasaran hasil kerajinan menjadi satu pokok pembicaraan pada pertemuan para pengrajin tikar agel di rumah Kepala Desa Tatangge, Bapak Sinda sekitar bulan Oktober tahun 2006 silam. Warga Tatangge umumnya masih memasarkan tikar pada tetangga dekatnya. Alih-alih memasarkan ke Kota Kendari, di pasar rakyat Lapoa saja barang ini sangat jarang ditawarkan. Kelangkaan produk ini di pasar rakyat warga desa Tatangge dan sekitarnya setidaknya menjadi salah satu indikator bahwa pemasaran tikar rakyat sedang mengalami kendala yang serius.

Pernah terlontar ide untuk membuat show room bagi kerajinan warga Tatangge, namun rencana ini belum bisa terealisasi sampai sekarang disebabkan belum tersedianya tempat untuk memamerkan produk-produk mereka. Bertitik tolak dari kesulitan ini, warga memiliki inisiatif untuk bekerjasama dengan dinas terkait PEMDA KONSEL. Sayangnya ide ini terkendala dengan masih rendahnya networking antara warga dengan PEMDA KONSEL.

3. Kurangnya permodalan usaha kerajinan tikar rakyat

Bisnis tikar rakyat skala kecil kurang memerlukan banyak modal. Namun, untuk membangun bisnis tikar rakyat yang besar dan menguntungkan memerlukan modal yang tidak sedikit. Masyarakat daerah penyangga yang umumnya berada pada posisi kelas ekonomi menengah ke bawah mengalami keterbatasan modal untuk mengelola bisnis tikar agel secara profesional. Setidaknya produk ini harus cukup populer dahulu di mata masyarakat luas untuk menarik minat masyarakat membeli maupun menggeluti bidang usaha ini. Beberapa pengrajin tikar di desa Tatangge mengaku bahwa untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari saja mereka mengalami kesulitan apalagi untuk membangun bidang usaha yang profesional. Seperti pepatah “jauh panggang dari api”. Ini cukup sulit dilakukan.

Modal kecil diakui menjadi penyebab bidang usaha pertikaran masyarakat sekitar TNRAW kurang berkembang. Skala produksi yang rendah berimbas pada rendahnya nilai keuntungan penjualan produk. Karena dianggap sebagai bisnis yang kurang menguntungkan, kerajinan tikar rakyat makin lama makin ditinggalkan.

Strategi pengembangan tikar rakyat

Lebih dari pada produk biasa, tikar tolaki membawa ciri khas budaya asli masyarakat tolaki. Sudah sewajarnya pengembangan kerajinan tikar tolaki perlu didukung oleh semua pihak. Bukan tidak mungkin, 20 tahun mendatang anak cucu kita harus pergi ke museum hanya untuk melihat bentuk tikar tolaki. Diperlukan berbagai langkah penyelamatan kebudayaan rakyat ini agar tetap eksis di masyarakat. Strategi yang dapat ditempuh antara lain :

1. Penguatan kapasitas pemerintahan desa

Pemerintahan desa merupakan garda terdepan yang berinteraksi secara langsung dengan para pengrajin tikar agel. Kelembagaan yang kuat akan mendorong efektifitas dan efisiensi pemerintaahan desa. Faktor ini perlu dibenahi lebih serius mengingat pada umumnya desa-desa di sekitar TNRAW merupakan desa-desa kecil yang kelembagaannya masih lemah. Bahkan sebagian diantaranya masih berstatus sebagai desa persiapan, seperti halnya desa Tatangge. Lembaga desa yang sudah terbentuk belum menjalankan fungsinya secara optimal. Bahkan dijumpai pula perbedaan kesepahaman pada aparat desa tentang peran dan fungsi lembaga-lembaga yang bersangkutan. Sehingga mekanisme pemerintahan desa tidak berjalan secara optimal.

Desa sebagai satuan pemerintahan terkecil di bawah camat dapat menjadi wadah penyaluran aspirasi dan kebutuhan para pengrajin tikar tolaki. Kepala desa juga berfungsi sebagai fasilitator dan penghubung antara para pengrajin dengan instansi pemerintah yang terkait atau NGO yang concern dengan aktivitas pemberdayaan masyarakat (community development).

2. Penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (Human Resources Capacity)

Kapasitas SDM telah menjadi salah satu barometer kemampuan organisasi atau lembaga dalam menjalankan fungsinya. Dalam hal ini, untuk mengangkat pamor tikar tolaki diperlukan penguatan kemampuan pengrajin produk tersebut. Tuntutan kapasitas SDM tidak hanya diperlukan dalam peguasaan teknik pembuatan tikar, namun seorang pengrajin harus menguasai mekanisme pasar dan menyadari arti penting peningkatan kualitas produk secara terus-menerus. Penampilan tikar tolaki yang monoton dan tidak mengikuti perkembangan kebutuhan pasar akan menyebabkan produk ini terisolir dan tidak laku. Tentu saja ini bukan berarti menghilangkan nilai khas motif tolaki pada tikar, namun perlu adanya kombinasi motif khas tolaki ini dengan kebutuhan dan preferensi konsumen. Perubahan tingkah laku ini dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pembinaan SDM oleh pemerintah atau LSM.

3. Bantuan permodalan

Pemberian bantuan permodalan dapat membantu meningkatkan skala usaha kerajinan tikar tolaki. Bantuan ini sebaiknya tidak diberikan cuma-cuma tetapi dalam bentuk pinjaman yang harus dikembalikan. Belajar dari pengalaman lalu, ternyata banyak terjadi penyimpangan dalam pemberian batuan kepada masyarakat di daerah penyangga. Masyarakat seringkali memiliki persepsi bahwa bantuan pemerintah itu sifatnya hibah cuma-cuma. Akibatnya bantuan itu dimanfatkan untuk keperluan lain yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Bahkan tak jarang bantuan yang diberikan malah dibagi-bagikan kepada masyarakat untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya tujuan pemberian bantuan tidak tercapai. Pengawasan ketat perlu dilakukan agar modal yang diberikan produktif dan tepat sasaran.

Selanjutnya tinggal menunggu niat baik dari semua pihak untuk bersama-sama mengangkat kerajinan tikar tolaki dari desa sekitar TNRAW ini di mata masyarakat luas. Hasil karya yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi telah menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

3 thoughts on “Tikar Tolaki, Kerajinan Rakyat yang Makin Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s