Strategi Konservasi Rawa Aopa Sulawesi Tenggara : Bersama Masyarakat Lokal Selamatkan Ekosistem Rawa *)

Melihat keunikan rawa Sulawesi tak akan lengkap kiranya tanpa singgah di Rawa Aopa. Sebagai perwakilan ekosistem rawa Sulawesi, Rawa Aopa direkomendasikan untuk dikunjungi para pecinta rawa baik dari dalam maupun luar negeri. Sangat dianjurkan pula terutama bagi pihak-pihak yang ingin mempelajari karakteristik/ciri khas rawa Sulawesi untuk datang dan melihat secara langsung keunikannya.

Mencapai Rawa Aopa

Rawa Aopa secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Dari Kota Kendari, lokasi ini berjarak sekitar 80 km dan dapat ditempuh selama ± 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Untuk mencapai Rawa Aopa dapat mengambil rute Kota Kendari-Unaaha-Rawa Aopa. Aksesibilitasnya cukup lancar karena didukung oleh prasarana jalan raya dari Kendari sampai Rawa Aopa yang semuanya beraspal. Bahkan kualitas jalan yang menghubungkan Kota Kendari-Unaaha termasuk yang terbaik di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Nilai Ekologis Rawa Aopa

Rawa Aopa secara total memiliki luas 30.000 ha, dan sekitar 13.269,97 ha diantaranya berada dalam kawasan konservasi (Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai). Tutupan air tersebut termasuk kawasan yang dilindungi menurut ketentuan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

Secara ekologis, Ekosistem Rawa Aopa termasuk yang paling unik diantara rawa-rawa lain di Sulawesi. Ekosistem ini menjadi habitat berbagai satwa liar terutama burung air (water bird). Jenis satwa liar yang mendominasi pada umumnya adalah Wilwo (Mycteria cinerea), Bangau (Egretta intermedia), Koak merah (Nyctocorax caledonicus), Pecuk ular (Anhinga melanogaster), Ibis (Dendrocygna arcuata), Mandar dengkur (Aramidopsis plateni), dll.

Jenis-jenis ikan yang menghuni rawa adalah Gabus (Chana striata), Lele (Clarias batrachus), Belut (Monopterus albus), Mujair (Tilapia mossambica), Tawes (Barbodes gonionotus), Sepat (Trichogaster trichopterus) dan lain-lain. Kekayaan flora dicirikan oleh dominasi tumbuhan teratai merah, totole, Uti (Baeckea frutescens), Holea (Callophyllum Soulattri), Wewu (Planchonia valida), Sagu (Metroxylon sagoo), dan lain-lain.

Tutupan badan air yang selalu tergenang luasnya mencapai lebih dari 10.000 ha. Fungsi pokoknya adalah sebagai catcment area (daerah tangkapan air) di musim penghujan. Pada musim kamarau, airnya terus mengalir dan menjadi pemasok utama kebutuhan masyarakat di sepanjang DAS Sampara sampai Kota Kendari. Sebagian lainnya dimanfaatkan oleh PDAM untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Kota Kendari dan sekitarnya.

Pemanfaatan Tradisional

Keberadaan Rawa Aopa sangat dirasakan oleh masyarakat lokal yang selama ini menggantungkan kehidupannya pada sektor perikanan darat. Maklum saja lokasinya berjarak agak jauh dari bibir pantai, sehingga sektor tersebut menjadi tumpuan mata pencaharian disamping usaha pertanian lada. Ikan rawa hasil tangkapan utama adalah ikan gabus (Chana striata) dan karper (Helostoma temminckii). Care International Indonesia (2005) menyatakan bahwa kedua jenis ikan ini telah menyuplai kebutuhan protein bagi lebih dari 2.250 kepala keluarga yang bermukim di 13 desa bagian barat wilayah perairan Rawa Aopa.

Di bidang pariwisata alam, panorama rawa yang menarik dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha pariwisata air. Jenis usaha yang ditekuni antara lain penyediaan fasilitas penyewaan katinting. Katinting adalah perahu mini yang terbuat dari kayu, dirancang sendiri oleh masyarakat lokal sebagai alat transportasi air. Pemilik katinting biasa memasangkan mesin pemutar baling-baling berbahan bakar solar di bagian belakang sebagai alat pendorong perahu. Tarif sewa tergantung jarak tempuh dan kebutuhan bahan bakar selama perjalanan.

Pemanfatan tradisional juga terjadi pada jenis pandan air. Masyarakat lokal menamakan tumbuhan ini dengan sebutan totole. Totole dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai kerajinan tangan seperti tas, tikar, topi dan beraneka souvenir. Mereka telah menguasai keterampilan menganyam ini secara turun-temurun sejak dahulu kala. Sebagian besar hasil kerajinan masih dikonsumsi sendiri, dan sebagian lainnya dijual ke pasar tradisional.

Bersama Masyarakat Melestarikan Rawa

Ekosistem Rawa Aopa menyimpan potensi yang luar biasa secara ekologis, ekonomis, ilmu pengetahuan maupun sosial budaya masyarakat sekitar. Sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk melestarikannya. Dengan difasilitasi Care International Indonesia, Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai sebagai instansi pengelola kawasan konservasi Rawa Aopa bergandengan tangan dengan masyarakat lokal dalam upaya penyelamatan rawa. Masyarakat lokal adalah aset potensial bagi konservasi dan bukan sebaliknya. Terlebih lagi kesadaran konservasi rawa ini sebenarnya telah dimiliki oleh masyarakat sekitar sejak lama.

Pengelolaan bersama masyarakat lokal telah dimulai sejak ditandatangani naskah kesepakatan kerjasama (MOU) antara pihak Balai TNRAW dengan AKMAPER (Asosiasi Kerukunan Masyarakat dan Pelestari Rawa Aopa) pada tahun 2005. Dengan masa berlaku selama 3 tahun, kedua belah pihak berkomitmen untuk menyelamatkan ekosistem rawa dengan prinsip saling memberi kemanfaatan.

Masyarakat lokal yang dikoordinir oleh AKMAPER diijinkan untuk memanfaatkan jasa lingkungan Rawa Aopa dan mengambil ikannya secara lestari. Sedangkan untuk menjamin keberlanjutan ekosistem dan pemanfaatannya, maka pihak Balai TNRAW berkomitmen untuk berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat lokal dalam Pengamanan Swakarsa (PAM SWAKARSA), rehabilitasi/restorasi di sekitar rawa, sharing informasi serta mendukung penegakan hukum atas pelaku perusakan rawa.

Penegasan Komitmen Bersama

Kedua belah pihak yang berkolaborasi bertemu kembali dalam kesempatan regular meeting Forum OPSDA (Organisasi Pemanfaat Sumber Daya Alam) TNRAW. Pertemuan kedua belah pihak diselenggarakan pada tanggal 2 Juli 2007 memilih lokasi di Rawa Aopa, Kabupaten Konawe. Kepala Balai TNRAW yang baru, Ir. Sri Winenang, M.M., berharap kolaborasi yang sedang dilaksanakan dapat memberikan kontribusi positip bagi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Tentu saja pernyataan ini disambut positip oleh pengurus AKMAPER. Rustamin Laduka, Ketua AKMAPER tahun 2007, menegaskan kembali dukungannya atas kolaborasi Rawa Aopa. Beliau berharap Ekosistem Rawa Aopa bisa dinikmati sampai beberapa generasi yang akan datang.

Referensi :

*) Sugiarto, 2007. Strategi Konservasi Rawa Aopa Sulawesi Tenggara :  Bersama Masyarakat Lokal Selamatkan Ekosistem Rawa. Wetlands International Indonesia. Warta Konservasi : Lahan Basah. Vol 15 No. 3 Oktober 2007 (download di http://www.papuaweb.org/dlib/jr/wklb/edisiokt2007.pdf)

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s