Rawa Gambut Sulawesi, Keunikan yang Terlupakan

Kondisi fisik air Rawa Aopa

Kondisi fisik air Rawa Aopa

Keberadaan rawa gambut di Pulau Sulawesi sudah cukup lama teridentifikasi. Whitten et al. (1987) menuliskan keberadaan gambut ini dalam buku “The Ecology of Sulawesi” yang diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press. Meskipun diterbitkan sekitar 25 tahun yang lalu, buku ini tetap menjadi referensi yang baik karena didukung berbagai eksplorasi ilmiah tentang fenomena-fenomena unik di berbagai penjuru Pulau Sulawesi. Minimnya penelitian-penelitian terkait keanekaragaman hayati di pulau ini kala itu menyebabkan sebagian peneliti menyebut Pulau Sulawesi sebagai pulau yang belum dikenali. Cukup disayangkan pula, bahwa kekayaan ekologi yang dimiliki oleh Pulau Sulawesi sebagian masih terkubur dan bahkan dianggap asing oleh sebagian para penghuninya. Satu dari kekayaan yang terpendam tersebut adalah keberadaan Rawa Gambut Sulawesi.

Karakteristik Rawa Gambut Sulawesi

Keberadaan Rawa Gambut Sulawesi dibandingkan dengan lahan Gambut di Sumatera maupun Kalimantan termasuk jarang terulas. Selain dari sisi luasan maupun sebarannya yang tidak terlalu besar, keberadaan Gambut Sulawesi kurang dikenal karena masih minimnya penelitian-penelitian yang relevan terhadap eksistensi, peranan, fungsi maupun ancamannya. Whitten et al (1987) telah mengidentifikasi keberadaan Rawa Gambut Sulawesi di kawasan Rawa Aopa Sulawesi Tenggara dan menyebutkan bahwa gambut di kawasan ini merupakan gambut dengan luasan cukup besar yang masih tersisa di daratan Pulau Sulawesi.

Tanah Gambut di Rawa Aopa memiliki keunikan dalam proses pembentukkannya. Di banyak tempat tanah gambut terbentuk di daerah payau/mangrove yang berdekatan dengan laut. Tanah gambut banyak ditemukan di kelokan-kelokan sungai atau bekas sungai yang telah mati akibat tersumbat oleh penumpukan atau pengendapan serasah yang terbawa aliran air. Dalam kondisi salinitas yang tinggi, aerasi yang kurang baik dan terganggunya aliran air menyebabkan lambatnya proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Penumpukkan ini selanjutnya akan membentuk tanah gambut.

Dalam proses pembentukkan Gambut di Rawa Aopa sama sekali tidak berhubungan dengan unsur salinitas air laut. Whitten et al. (1987) menyebutkan bahwa gambut Rawa Aopa termasuk gambut topogen dimana dalam pembentukkannnya terjadi akibat kondisi kawasan yang berada di daerah depresi yang dikelilingi oleh dataran tinggi, khususnya Gunung Makaleleo. Rawa Aopa bertopografi datar sehingga aliran air yang terjadi memiliki arus yang lambat. Kondisi ini menyebabkan rendahnya aerasi/kandungan oksigen dalam air yang diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Yang terjadi kemudian adalah penumpukkan bahan organik yang menjadi bahan dalam proses pembentukkan tanah gambut.

Peta posisi Rawa Aopa

Peta posisi Rawa Aopa hulu dan hilir

Kondisi fisik gambut Rawa Aopa di TNRAW dicirikan oleh kondisi vegetasi yang didominasi oleh kelas herba rawa yang hidup pada lapisan gambut dengan ketebalan < 4 m. Lapisan gambut ini kondisinya relatif masih utuh dan baik dimana keberadannya terlindungi oleh tutupan air yang mencegah terjadinya pengeringan gambut. Aliran air berwarna gelap karena membawa koloid tumbuhan. pH air rendah sebagaimana tanah gambut pada umumnya. Aliran air dari Rawa Aopa mengalir ke arah barat menuju Kabupaten Kolaka dan ke arah timur menuju Rawa Aopa hilir. Dari Rawa Aopa hilir, air Rawa Aopa bergabung dengan air dari Sungai Konaweha membentuk Sungai Sampara. Debit Rawa Aopa sendiri sangat dipengaruhi oleh musim, dimana pada musim penghujan debitnya cukup tinggi, namun di musim kemarau debitnya mengalami penurunan.

Tanah gambut di Rawa Aopa diperkirakan telah berumur cukup tua dan membentuk puncak suksesi ekosistem. Ekosistem rawa ditandai oleh kekayaan beragam spesies burung air dan ikan. Salah satu jenis ikan yang cukup baik perkembangannya adalah ikan gabus, dimana jenis ikan ini dikenal sebagai spesies ikan yang dapat bertahan pada kondisi air miskin oksigen.

Ancaman Kerusakan Rawa Gambut Sulawesi

Sampai saat ini, keberadaan rawa gambut di TNRAW telah memberikan kontribusi pada pendapatan masyarakat dari sektor perikanan darat. Pemanfaatan tradisional yang sudah berlangsung secara turun-temurun ini difasilitasi pengelola kawasan dengan menetapkan sebagian Rawa Aopa menjadi zona tradisional yang memungkinkan pemanfaatan hasil hutan non kayu (ikan) melalui kesepakatan kolaboratif.

Di sisi lain, keberadaan Rawa Gambut di kawasan konservasi ini dapat terdegradasi apabila tidak terlindungi dari aktivitas pengeringan gambut atau konversi lahan. Posisi rawa gambut dikelilingi oleh lahan pertanian yang terletak di sebelah barat dan timur kawasan TNRAW. Dengan adanya tekanan kebutuhan lahan bukan tidak mungkin, aktivitas budidaya ini akan semakin maju dan masuk ke dalam kawasan taman nasional.

Degradasi lahan gambut di Kalimantan seharusnya dapat menjadi cermin bagi upaya penting perlindungan rawa gambut Sulawesi yang masih tersisa ini. Upaya pemanfaatan lahan gambut tanpa didasari pengetahuan yang baik tentang sifat-sifat gambut dapat menghancurkan gambut baik dari sisi ekologi maupun ekonominya. Pengeringan gambut dengan cara membuat kanal-kanal air secara sembarangan menyebabkan penurunan muka air, penurunan lapisan gambut dan keracunan tanah, sehingga yang tersisa adalah lahan-lahan rusak yang tidak produktif.

Akumulasi racun terjadi akibat adanya oksidasi besi yang muncul ke permukaan tanah di bawah gambut akibat keringnya air yang menutupinya. Besi yang teroksidasi ini dikenal dengan sebutan pirit, dimana zat ini apabila terserap akar tumbuhan dapat menyebabkan keracunan yang mematikan. Ini belum ditambah dampak negatif yang disebabkan oleh akumulasi alumunium yang merusak sifak kimia tanah.

Dari sisi sifat fisik gambut, aktivitas pengeringan gambut bersifat irreversible, artinya gambut yang telah mengalami pengeringan tidak akan atau sulit untuk kembali seperti semula. Gambut-gambut semacam ini telah mengalami kehilangan sebagian besar masa yang telah dimilikinya. Di berbagai tempat, gambut kering mudah terbakar dan menyebabkan berbagai dampak ekologi, sosial dan ekonomi.

Pemanfaatan gambut bukan sebuah larangan, namun perlu dilakukan pengaturan tentang metoda pemanfaatan yang baik dan jenis gambut yang seperti apa yang boleh dimanfaatkan untuk mempertahankan keberlanjutan fungsi-fungsinya. Dalam hal ini perlu pula dicadangkan gambut-gambut yang memiliki nilai keunikan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan. Gambut unik ini perlu dilindungi dan ditetapkan sebagai bagian dari kawasan lindung.

Referensi :

Whitten AJ, Mustafa M, Henderson GS. 1987. The Ecology of Sulawesi. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s