Permasalahan dalam Meningkatkan Kedetailan Skala Peta Tematik di Kawasan Konservasi / Taman Nasional Luar Jawa

Contoh citra landsat akuisisi 2011

Contoh citra landsat akuisisi 2011

Pada umumnya ada kesulitan untuk mendapatkan referensi peta dengan skala detail di kawasan konservasi khususnya di luar Jawa. Beberapa sumber citra yang cukup detail dapat didownload secara gratis di Google Earth, namun biasanya hanya tersedia untuk kota-kota besar. Sementara di kawasan hutan resolusinya kurang bagus. Merupakan sebuah kewajaran ketika penyedia layanan menempatkan pusat-pusat aktivitas masyarakat dalam porsi lebih untuk ditampilkan dalam citra beresolusi tinggi terkait hajad hidup orang banyak. Akan tetapi tuntutan pengelolaan lebih intensif terhadap kawasan konservasi (khususnya Taman Nasional) menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Terlebih lagi dengan adanya program penguatan kapasitas data level tapak pada Resort Based Management ( RBM ), maka diperlukan peta-peta sebagai penyedia informasi dalam skala detail. Keberadaan peta skala detail ini akan sangat membantu petugas lapangan untuk melakukan identifikasi dan analisis terhadap potensi maupun gangguan yang ada di dalam kawasan.

Permasalahan Skala Peta

Sekitar dua tahun yang lalu, seorang teman di Sulawesi mengeluhkan tentang kurang detailnya skala peta yang dimiliki oleh kantornya. Menurut beliau idealnya untuk memenuhi kebutuhan peta saat itu diperlukan skala paling tidak 1 : 25.000 atau lebih detail daripada itu. Sementara di kantornya hanya tersedia peta skala 1 : 50.000. Selanjutnya teman saya tersebut menyampaikan permasalahan pada seorang mitra yang cukup peduli dengan pengelolaan SDA.

Mitra teman saya itu berniat untuk membantu, dan mengirimkan untuk kantor teman saya peta RBI bersumber dari Bakosurtanal. Bantuan mitra tersebut sangat bermanfaat untuk menunjang operasional. Namun demikian permasalahan skala peta nampaknya belum terselesaikan.

Peta Rupa Bumi (RBI) merupakan peta topografi yang diproduksi oleh Bakosurtanal, sebuah instansi/lembaga yang bertanggung jawab dalam melakukan fungsi koordinasi dalam pembuatan peta. Awalnya peta rupabumi diproduksi pada skala 1 : 1.000.000, lalu menjadi lebih besar dengan skala 1 : 250.000, disempurnakan menjadi 1 : 100.000, 1 : 50.000, 1 : 25.000 dan 1 : 10.000. Pembuatan peta topografi 1 : 25.000 itu sendiri sampai saat ini belum meng-cover seluruh propinsi di Indonesia. Pemilikan peta skala 1 : 25.000 masih terbatas pada Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Peta RBI skala 1 : 10.000 masih sangat terbatas pada daerah-daerah tertentu. Sementara di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi umumnya masih menggunakan peta RBI skala 1 : 50.000. Di Papua malah hanya memiliki peta skala tinjau saja. Ini belum ditambah dengan permasalahan terjadinya perubahan-perubahan biofisik di lapangan yang menuntut pembaharuan peta RBI, seperti perubahan pola aliran sungai, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, peta RBI yang dikirimkan untuk kantor teman saya tersebut masih berskala 1 : 50.000, artinya tidak lebih detail dari skala peta yang telah dimiliki sebelumnya. Sehingga untuk mendapatkan peta lebih detail maka diperlukan usaha lain yang memungkinkan.

Hubungan Resolusi Citra dan Skala Peta

Istilah resolusi citra khususnya resolusi spasial disematkan untuk menggambarkan seberapa detail penampakan spasial citra yang diwakili oleh setiap pikselnya. Dengan kata lain, resolusi spasial mewakili obyek terkecil yang masih mampu ditangkap dengan baik oleh sensor satelit. Resolusi spasial yang rendah akan menampilkan obyek permukaan bumi yang terlihat baur/kurang jelas, sebaliknya resolusi spasial yang tinggi akan menampilkan obyek-obyek permukaan bumi lebih jelas sehingga lebih mudah diidentifikasi secara visual.

Perkembangan ilmu bumi khususnya remote sensing dewasa ini berlangsung demikian pesat. Sehingga manusia saat ini dapat melihat obyek-obyek di permukaan bumi secara visual bahkan dapat melihat obyek secara 3 dimensi melalui teknologi penginderaan jauh. Jika pada zaman dahulu, untuk mendapatkan skala yang lebih baik dilakukan proses fotografi dari udara (foto udara), maka saat ini itu sudah dapat dilakukan oleh sensor satelit. Jika dahulu sensor satelit (landsat) hanya mampu menangkap obyek dengan ukuran terkecil 30 m, maka saat ini dengan teknologi terbarukan sensor satelit dapat menangkap obyek berukuran sampai 1 m, bahkan bisa lebih kecil daripada itu. Misalnya saja Quickbird yang mampu menangkap obyek hingga 0,61 m di permukaan bumi.

Karena perbedaan tingkat kejelasan obyek ini tentu saja berdampak pada maksimum skala peta berapa yang dapat diekstrak dari citra. Semakin tinggi resolusi spasial citra, tentunya peta yang dapat dihasilkan memiliki skala lebih besar (lebih detail). Pada contoh kasus teman saya di Sulawesi itu, peta RBI diekstrak dari proses fotografi udara dengan hasil akhir berupa peta dengan skala 1 : 50.000. Untuk mendapatkan skala lebih detail maka perlu mencari sumber data yang mampu menampilkan obyek lebih baik daripada tingkat kedetailan yang disajikan oleh proses fotografi tersebut.

Sebagai gambaran, skala peta RBI dari Bakosurtanal 1 : 50.000 setara dengan peta yang dihasilkan dari citra landsat +ETM resolusi spasial 15 m. Untuk skala ini, sebagian orang mungkin menggunakan citra landsat TM resolusi spasial 30 m, namun lebih dianjurkan menggunakan resolusi landsat minimal 15 m agar hasilnya lebih baik. Sehingga untuk mendapatkan skala peta 1 : 20.000 harus menggunakan resolusi spasial lebih besar daripada 15 m, misalnya saja menggunakan citra ikonos multispektral. Atau jika ingin lebih detail daripada itu, misalnya saja target peta yang akan dibuat adalah 1 : 10.000, maka sangat disarankan untuk mengekstrak peta dari citra Quickbird multispektral. Lebih bagus lagi apabila sudah ada data Quickbird pankromatik, maka akan sangat bermanfaat untuk menggunakan citra tersebut karena resolusi spasialnya lebih tinggi.

Permasalahan Sarpras dan SDM

Permasalahan klasik di berbagai instansi di luar Jawa umumnya masih berputar-putar di Sarpras dan Sumber Daya Manusia (SDM). Ini cukup ironis mengingat kebutuhan untuk mengintensifkan pengelolaan sumber daya alam saat ini sudah sangat mendesak. Bakosurtanal sendiri dengan sumber dayanya nampaknya juga sudah mulai kuwalahan untuk menyediakan peta-peta skala detail di seluruh wilayah Indonesia.

Di sisi lain, instansi di luar Jawa (baik pusat maupun daerah), memiliki sarpras dan SDM yang kurang memadai dalam membangun peta tematik skala detail. Jika dihitung-hitung, dari sekian banyak instansi di Luar Jawa ada berapa banyak yang telah menghasilkan dan memiliki kapabilitas untuk memproduksi sendiri peta tematik detail skala 1 : 5.000 atau 1 : 10.000 ? Atau kita ambil sampel peta 1 : 25.000. Dan ada berapa banyak instansi (pusat dan daerah) yang memiliki sumber data untuk membangun peta skala detail seperti Ikonos atau Quickbird ? Barangkali prosentasenya masih  rendah.

Satu terobosan telah dilakukan Kementerian Pertanian dengan mengadakan citra Ikonos untuk wilayah Jawa, Madura dan beberapa daerah saja di Luar Jawa. Ini mengingat sangat diperlukannya ketersediaan data dan informasi tentang lahan pertanian/sawah di daerah-daerah tersebut. Namun ini sebaiknya juga tidak menutup kemungkinan bagi instansi/lembaga/organisasi di luar Jawa untuk mengupayakan ketersediaan peta tematik skala detail di daerahnya. Tentunya didukung oleh SDM dengan keterampilan perpetaan yang memadai.

Bukan sesuatu yang tidak mungkin dan memang perlu dimungkinkan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi dengan ketersediaan  sumber data skala detail. Manfaatnya adalah membantu dalam merancang suatu rencana pemanfaatan ruang wilayah pada kawasan konservasi. Keberadaan data tersebut juga membantu bagi para petugas lapangan yang akan berpatroli, melakukan inventarisasi flora/fauna, penelitian dan lain sebagainya.

Mendetailkan Peta Terkesan Mahal

Baik memang tidak selalu gratis. Namun biaya yang dikeluarkan merupakan investasi untuk peningkatan kapasitas pengelolaan. Dan apabila diperbandingkan pengadaan citra resolusi tinggi (Ikonos misalnya) dengan manfaat yang diterima bisa jadi biaya yang dikeluarkan tersebut kurang berarti. Ini tentunya tergantung pada seberapa optimal ketersediaan informasi skala detail tersebut dapat dimanfaatkan di dalam menunjang pengelolaan kawasan konservasi. Semoga.

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:
About these ads

One thought on “Permasalahan dalam Meningkatkan Kedetailan Skala Peta Tematik di Kawasan Konservasi / Taman Nasional Luar Jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s