Mengenal Kehidupan Rotan (Calamus inops) di Hutan Pendidikan Tatangge TNRAW, Provinsi Sultra

Buah rotan di TNRAW

Buah rotan di TNRAW

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai memiliki beragam kekayaan hayati jenis palem-paleman. Hasil penelitian Sabilu (1999) menyatakan bahwa setidaknya TNRAW dihuni oleh 30 jenis palm yang diklasifikasikan ke dalam 15 marga. Diantara palm tersebut, 11 diantaranya merupakan jenis endemik Sulawesi. Jenis palem yang memiliki populasi cukup melimpah di kawasan yang berstatus situs RAMSAR ini salah satu diantaranya adalah jenis Rotan (Calamus inops). Rotan (Calamus inops) merupakan salah satu flora yang menjadi daya tarik wisata pendidikan Hutan Pendidikan Tatangge. Baru berjalan sekitar 30 meter saja ke dalam kawasan, seorang pengunjung dapat menikmati dari dekat tumbuhan menjalar ini di kiri dan kanan track wisata Tatangge. Meskipun masih berupa anakan, rotan bisa dikenali dengan mudah dan dibedakan dari jenis tumbuhan lain karena memiliki duri dan daun yang khas. Untuk mendapatkan rotan-rotan yang lebih besar, pengunjung hanya perlu berjalan lebih dalam lagi masuk ke kawasan hutan pendidikan. Kurang dari 100 meter, pengunjung dapat menjumpai rotan ukuran dewasa yang cukup lebat dari pinggir track yang mereka lalui.

Sistem Klasifikasi Tumbuhan

Rotan (Calamus inops BECC) dalam sistem klasifikasi tumbuhan termasuk family Palmae, Kelas Monocotyl, Sub Divisi Angiospermae dan Divisi Spermathophyta (Anthophyta). Tumbuhan ini dikenal pula dengan nama Tohiti, namun sebutan rotan telah umum digunakan oleh masyarakat tradisional di berbagai daerah. Penyebaran rotan cukup luas meliputi 5 pulau besar di Indonesia.

Morfologi dan Fisiologi

Rotan muda di Hutdik Tatangge

Rotan muda di Hutdik Tatangge

Membedakan rotan dari jenis yang lain tidak terlalu sulit, namun membedakan antar jenis rotan bukan perkara yang mudah. Saat masih anakan, morfologi yang ditampilkan masing-masing spesies rotan relatif mirip, sehingga terkadang 2 rotan diidentifikasi memiliki jenis yang sama padahal keduanya berbeda. Perbedaan ciri fisik baru tampak jelas setelah rotan menginjak umur dewasa. Apalagi setelah rotan mulai berbuah, identifikasi jenis lebih mudah lagi dilakukan. Identifikasi rotan dapat dilakukan dengan melihat morfologi daun, gerigi pada daun, pola sebaran daun, pola sebaran duri, warna duri, batang, bunga dan buah.

Calamus inops dapat dikenali dengan melihat ciri-ciri tersebut. Rotan jenis ini memiliki garis tengah sekitar 15 mm, dengan buku-buku yang menonjol. Panjang ruas 20 sampai dengan 35 cm. permukaannya kuning mengkilat dengan gelang-gelang bertanda kelam tajam melingkari buku-bukunya. Inti rotan berwarna kuning gading. Jenis ini liat, bingkas, agak keras, tetapi tidak begitu mudah dibelah-belah dan merupakan salah satu contoh rotan yang diperdagangkan (Heyne, 1987).

Populasi Rotan (Calamus inops) di Hutan Pendidikan Tatangge

Ada beberapa jenis rotan hidup di kawasan Hutan Pendidikan Tatangge, namun rotan jenis Calamus inops merupakan jenis yang paling dominan di daerah ini. Tumbuhan ini tersebar di beberapa tempat membentuk rumpun-rumpun. Satu rumpun rotan biasanya terdiri atas beberapa kelas umur, jumlah terbesar berupa anakan yang tumbuh di bawah-bawah rumpun dan sebagian kecil sisanya sudah dewasa. Di dekat lokasi perkemahan, seorang pengunjung bahkan dapat menemukan rotan inops dengan ketinggian lebih dari 20 meter.

Rumpun rotan di TNRAW

Rumpun rotan di TNRAW

Apabila pengunjung mencoba keluar dari track wisata dan masuk ke dalam lebatnya hutan, mereka pun dapat menjumpai rumpun-rumpun rotan tumbuh liar dengan suburnya. Jika beruntung, seorang pengunjung bahkan dapat menemukan rotan yang umurnya cukup tua dan dapat melihat buahnya yang unik. Ukuran buah sebesar kelereng dan menggerombol pada satu tangkai buah. Tidak seperti buah-buah pada umumnya, buah rotan memiliki kulit yang sangat keras dan morfologi kulitnya seperti sisik pada tanaman salak.

Fase Pertumbuhan Rotan (Calamus inops)

Saat masih anakan, rotan inops tumbuh soliter dengan karakteristik fisik yang mirip dengan kelapa atau aren. Hanya saja tangkai daunnya lebih kecil. Warnai tangkai hijau muda dan ditumbuhi duri-duri yang relatif masih jarang. Inti rotan yang menjadi batang utama belum terbentuk, hanya daun-daun yang muncul dari pangkal rotan menjulur ke segala arah. Ketinggian anakan ini kurang dari 1 meter.

Setelah agak dewasa, timbul perubahan fisik organ-organ yang dimiliki. Warna daun menjadi agak hijau tua, dengan tangkai yang memanjang. Kemudian rotan membentuk rumpun dengan tumbuhnya beberapa anakan baru dari pangkal batang. Di tengah-tengah rumpun muncul batang inti yang dapat tumbuh memanjang dengan cepat. Batang inilah yang nantinya dipanen ketika rotan telah cukup umur. Dalam satu rumpun bisa tumbuh beberapa batang inti. Di Hutan Pendidikan Tetangge dapat dijumpai pada salah satu rumpun ada yang memiliki batang inti hingga mencapai lebih dari 20 batang tiap rumpunnya.

Duri-duri yang tumbuh di batang dan daun juga mengalami perubahan fisik. Semakin tua umur rotan, duri yang tumbuh semakin rapat. Ukurannya pun menjadi lebih besar dan warnanya menjadi lebih gelap. Apabila dicermati dengan seksama, pola duri yang tumbuh pada daun dan batang ternyata berbeda. Pada batang, duri mengelompok hingga mencapai 10 duri tiap kelompoknya dengan formasi duri menjari. Sebaran kelompok duri ini agak teratur membentuk ruas-ruas pada batang. Sedangkan duri pada daun lebih jarang dimana tiap kelompoknya terdiri atas 1, 2 atau 3 duri. Pada pangkal daun duri cukup rapat, namun makin ke ujung formasinya makin jarang.

Pada rotan yang sudah tua, batang inti tumbuh merambat pada pohon yang tumbuh di sekitarnya. Pohon inang ini berfungsi untuk menunjang pertumbuhan memanjang rotan sehingga rotan dapat memperoleh lebih banyak sinar matahari. Pertumbuhan memanjang terus berlangsung hingga mencapai ketinggian lebih dari 20 meter, sedangkan pertambahan ukuran diameter tetap terjadi meskipun kurang signifikan. Tingkat kedewasaan rotan juga ditandai dengan tumbuhnya buah pada batang.

Pemanfaatan Rotan (Calamus inops)

Rotan yang tumbuh di Hutan Pendidikan Tatangge saat ini hanya difungsikan sebagai obyek penelitian dan wisata pendidikan, sehingga tidak diperkenankan melakukan penebangan di kawasan tersebut. Hal ini terkait fungsi pokok hutan pendidikan sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan kepariwisataan. Pengunjung akan diajak untuk mengenal lebih dekat karakteristik rotan dan keunikan yang dimilikinya. Flora ini pernah menjadi obyek penelitian kalangan akademisi, baik dosen maupun mahasiswa, seperti dilakukan beberapa civitas akademika Universitas Haluoleo beberapa waktu berselang.

Pemanfaatan tradisional dilakukan masyarakat terhadap populasi rotan yang tidak menyandang status dilindungi/ tidak berada di dalam kawasan konservasi. Rotan diolah menjadi berbagai barang kerajinan rakyat seperti kursi, meja, topi, keranjang dan aneka souvenir. Di beberapa tempat, rotan dibelah tipis-tipis dan dianyam menjadi tikar. Produk ini sangat diminati oleh masyarakat terutama para pecinta barang antik. Apalagi jika anyamannya dikerjakan dengan halus, nilai jualnya jauh meningkat lagi. Anyaman tikar rotan terlihat terpasang di beberapa ventilasi perkantoran Kota Kendari sebagai penahan panas saat matahari mulai condong. Masyarakat yang memanfaatkan produk ini bahkan jumlahnya lebih banyak lagi. Meja dan kursi dari rotan sudah menjadi trend masyarakat masa kini dimanapun, tak pernah mengenal ketinggalan zaman.

Patut disayangkan pengambilan rotan dari alam tidak diimbangi oleh keterampilan para pencari rotan dalam mengolah tumbuhan ini menjadi barang jadi yang siap jual. Para pencari rotan biasanya menjual rotan pada para pengumpul dalam bentuk bahan mentah. Lalu para pengumpul menjual kembali bahan mentah ini pada para pengrajin rotan di daerah lain atau dikirim ke Jawa. Padahal dalam bentuk barang jadi nilainya jauh lebih tinggi dari pada harga jual yang dipatok para pencari rotan. Sebagai gambaran, setidaknya harga tikar halus terbuat dari rotan di Kota Kendari ditawarkan dengan harga Rp 75.000,00 tiap lembarnya, bahkan umumnya lebih dari itu. Sehingga pihak yang paling diuntungkan dari pemanfaatan rotan ini sebenarnya bukan masyarakat pengambil rotan, tetapi justru para pedagang pengumpul dan pengrajin rotan.

Budidaya Rotan

Masyarakat penyangga TNRAW sampai saat ini masih belum tertarik dengan upaya budidaya secara intensif. Mengingat potensi rotan di daratan Sulawesi masih tinggi, metode pengambilan tanpa budidaya intensif masih dianggap paling murah dari pada melakukan budidaya sendiri di lahan pertanian. Namun untuk jangka panjang budidaya rotan merupakan satu-satunya pilihan ketika jumlah rotan yang tumbuh secara alami mulai menipis dan nilai rotan meningkat dengan adanya kelangkaan.

Budidaya rotan memanfaatkan biji sebagai bibit yang siap tanam. Biji-biji rotan ditanam dengan jarak tanam 10 cm pada persemaian khusus. Lalu persemaian disiram dengan air hingga benar-benar basah lalu ditutupi renggang-renggang dengan daun. Persemaian harus diusahakan tetap dalam kondisi basah. Setelah tunasnya timbul 4 cm di atas tanah maka penutupnya dibuang, tetapi persemaian tetap disiram secara teratur.

Setelah berumur 1 tahun, rotan dapat mencapai ketinggian 15 cm dengan 4-5 helai daun. Bibit diambil dengan hati-hati dan dipindahkan ke lahan yang disediakan untuk budidaya. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus, hanya perlu dilakukan pembersihan tanah di sekitarnya dan sedikit penggemburan jika lahannya mulai memadat. Setelah melewati umur 8 tahun, rotan sudah bisa dipanen. Pemanenan dilakukan dengan mengambil rotan-rotan yang telah tua dari rumpunnya, sedangkan yang masih muda dibiarkan tumbuh. Pemanenan dapat dilakukan terus menerus ketika dijumpai rotan yang siap panen, demikian seterusnya.

 

Bahan Bacaan :

Heyne, 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia.

Sabilu, 1999. Flora Palmae di TN Rawa Aopa Watumohai Sultra. Tesis IPB. Bogor

Artikel Terkait:
Baca Juga artikel lainnya:
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s